JEMBRANA — Lurah Gilimanuk Ida Bagus Tony Wirahadikusuma menyatakan gerusan ombak di kawasan Pura Segara sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu. Kondisi memburuk drastis dalam beberapa bulan terakhir setiap kali air laut pasang.
Abrasi dipicu hantaman arus dan gelombang laut yang kuat. Aktivitas olah gerak kapal di sekitar perairan diduga turut mempercepat penggerusan pasir pantai.
"Pasir kemungkinan tergerus akibat baling-baling kapal sehingga batu penahan menjadi ambrol," ujar Tony, Selasa (27/10/2025).
Posisi Pura Berdampingan dengan Dermaga LCM
Kerusakan terjadi tepat di area tempat suci umat Hindu. Pura Segara Gilimanuk berdiri berdampingan langsung dengan dermaga LCM Pelabuhan Gilimanuk.
Jika penanganan lambat, kerusakan dikhawatirkan terus meluas dan mengancam keamanan struktur pura. Panjang senderan yang ambrol kini mencapai sekitar 25 meter.
Pendataan Kerusakan dan Pelaporan ke Dinas Terkait
Sehari sebelumnya, Senin (26/10/2025), Tony bersama Kasi Trantib dan Bendesa Adat Gilimanuk turun langsung mengecek lokasi. Peninjauan itu untuk mendata tingkat kerusakan yang terjadi.
Hasil peninjauan dilaporkan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Perhubungan Kabupaten Jembrana. Laporan diteruskan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida sesuai kewenangannya.
Harapan Penanganan Darurat demi Keamanan Pura
Pihak kelurahan berharap penanganan darurat maupun permanen dapat segera direalisasikan. "Kami berharap abrasi ini segera mendapatkan penanganan demi keamanan Pura Segara Gilimanuk," harap Tony.
Ancaman abrasi di pesisir Jembrana menjadi perhatian karena menyentuh kawasan ibadah sekaligus jalur pelayaran tersibuk di ujung barat Bali.