Pencarian

Pengeluaran Pendidikan Anak di Korea Selatan Tembus Rp360 Triliun

Minggu, 25 Oktober 2026 • 13:48:31 WIB
Pengeluaran Pendidikan Anak di Korea Selatan Tembus Rp360 Triliun
Rumah tangga Korea Selatan mengeluarkan hampir 29,2 triliun won untuk pendidikan swasta anak pada 2024.

BALI — Rumah tangga Korea Selatan menghabiskan hampir 29,2 triliun won atau sekitar Rp360 triliun untuk pendidikan swasta anak pada 2024. Angka ini melonjak 60,1 persen dalam sepuluh tahun, dengan siswa SD jadi kelompok yang kenaikan belanjanya paling tajam. Simak rincian dan pemicunya.

Ministry of Data and Statistics Korea Selatan mencatat kenaikan pengeluaran pendidikan swasta selama empat tahun berturut-turut. Lonjakan terbesar datang dari keluarga dengan anak usia sekolah dasar, yang belanjanya naik 74,1 persen dibanding 2014.

Di balik angka itu, ada kebiasaan yang sudah mengakar: anak sepulang sekolah langsung diantar ke hagwon, bimbingan belajar swasta yang buka sampai malam. Orang tua memilih jalur ini ketimbang membiarkan anak di rumah sendirian.

Berapa Sebenarnya Belanja Pendidikan per Bulan?

KOSIS mencatat keluarga dengan minimal dua anak yang belum menikah mengeluarkan rata-rata 611.000 won atau sekitar Rp8 juta per bulan untuk pendidikan swasta pada kuartal ketiga 2025. Jumlah itu setara 12,6 persen dari total pengeluaran bulanan rumah tangga.

Porsinya hanya kalah dari belanja makanan. Sejak KOSIS mulai melacak pada 2019, angkanya masih 11,5 persen, lalu melesat tajam pada 2024.

Jenjang Mana yang Belanjanya Paling Melonjak?

Siswa sekolah dasar mencatat kenaikan paling signifikan, dari sekitar 7,6 triliun won (Rp101 triliun) pada 2014 menjadi 13,2 triliun won (Rp179 triliun) pada 2024. Dalam periode yang sama, pengeluaran untuk siswa SMP naik 40,7 persen dan siswa SMA naik 60,5 persen.

Artinya, tekanan biaya pendidikan sudah dirasakan keluarga sejak anak baru duduk di bangku SD, bukan menunggu menjelang ujian masuk universitas.

Mengapa Orang Tua Korea Makin Bergantung pada Les Swasta?

Para ahli menyebut seringnya perubahan dan ketidakpastian kebijakan penerimaan mahasiswa sebagai pemicu utama. Ketika aturan masuk perguruan tinggi terus berubah, orang tua merasa lebih aman menambah jam belajar lewat bimbingan belajar swasta.

Faktor lain adalah meningkatnya rumah tangga dengan dua sumber pendapatan. Dengan ayah dan ibu sama-sama bekerja, hagwon sekaligus berfungsi sebagai tempat menitipkan anak sepulang sekolah.

Sampai ke Anak Usia Dini

Persaingan tidak berhenti di jenjang sekolah dasar. Laporan terbaru menyebut hampir separuh anak kecil di Korea terdaftar dalam program pendidikan swasta, terutama taman kanak-kanak berbahasa Inggris.

Orang tua bahkan memperlakukan pendidikan seperti komoditas, seolah bisa membeli masa depan akademis anak. Akibatnya, siswa yang sudah dipersiapkan intensif justru kurang menghargai pelajaran reguler di kelas.

Dampaknya pada Keputusan Punya Anak

Survei tahun 2020 menemukan ketidakstabilan ekonomi dan biaya pengasuhan yang tinggi sebagai alasan utama banyak orang Korea memilih tidak punya anak. Biaya pendidikan disebut sebagai penyebab utama mahalnya membesarkan anak di sana.

Bagi ibu di Indonesia, data ini bisa jadi cermin: seberapa besar porsi belanja pendidikan dalam anggaran keluarga Anda, dan apakah setiap les yang diambil anak benar-benar dibutuhkan atau hanya ikut arus persaingan.

Follow denpasar24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks