Pencarian

BI Kurangi SRBI Bertahap, Lepas Likuiditas Rp150 Triliun ke Pasar Uang

Minggu, 25 Oktober 2026 • 08:48:01 WIB
BI Kurangi SRBI Bertahap, Lepas Likuiditas Rp150 Triliun ke Pasar Uang
Bank Indonesia melepas likuiditas sekitar Rp150 triliun seiring penurunan posisi SRBI dari Rp1.070 triliun ke kisaran Rp900 triliun.

BALI — Bank Indonesia memperkirakan telah melepaskan likuiditas sekitar Rp150 triliun dari pasar uang seiring penurunan posisi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari level tertinggi Rp1.070 triliun ke kisaran Rp900 triliun. Pengurangan surat utang jangka pendek itu akan dilanjutkan secara bertahap dan terukur untuk menyeimbangkan likuiditas pasar.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan bank sentral telah mengalibrasi SRBI, baik dari sisi imbal hasil maupun volume likuiditas yang diserap. Posisi instrumen moneter itu kini berada di kisaran Rp900 triliun, turun dari puncak sekitar Rp1.070 triliun.

"Highest ever posisi SRBI itu pernah 1.070 dan kemarin posisi terakhir sudah turun 900-an, jadi kita sudah rilis sebenarnya likuiditas itu dari SRBI itu lebih kurang dari posisi tertingginya sekitar 150," kata Erwin dalam taklimat media BI, Jumat (23/10).

Penurunan volume SRBI tidak dilakukan sekaligus. BI memilih jalur gradual agar tidak menimbulkan gejolak di pasar uang.

Alasan BI Kurangi Serapan SRBI Tenor Panjang

SRBI memiliki tenor 6, 9, dan 12 bulan. Menurut Erwin, sebagian besar likuiditas sebelumnya terserap pada tenor-tenor panjang tersebut, sehingga dana yang tersedia untuk kebutuhan harian di pasar uang menjadi terbatas.

Dengan mengurangi volume SRBI secara bertahap, BI ingin memastikan ketersediaan likuiditas harian cukup. Kecukupan likuiditas itu diperlukan agar pergerakan suku bunga pasar uang tetap berada dalam koridor yang diharapkan.

"Sehingga likuiditasnya itu bisa balance antara likuiditas yang kita kunci di jangka panjang dengan likuiditas yang di jangka pendek dan menengah," jelas Erwin.

Kondisi likuiditas yang seimbang juga menjadi syarat agar transmisi kebijakan moneter dari BI Rate ke pasar uang dan selanjutnya ke sektor perbankan berjalan lebih kuat.

SRBI Tetap Jadi Instrumen Menarik bagi Investor Asing

Meski penerbitan dikurangi, BI mempertahankan SRBI sebagai salah satu aset rupiah yang menarik, khususnya terkait masuknya modal asing. Erwin menegaskan SRBI masih berfungsi sebagai instrumen operasi moneter.

Imbal hasil SRBI tidak ditentukan sembarangan. Penetapannya mempertimbangkan BI Rate, ekspektasi inflasi, dan risk premium. Karena instrumen ini bisa dibeli investor asing, penyesuaian volume harus tetap menjaga daya tariknya.

"SRBI ini kan bisa dibeli asing," kata Erwin.

Artinya, pengurangan volume SRBI berjalan di dua kepentingan sekaligus: mencukupi likuiditas domestik dan mempertahankan minat investor asing terhadap aset rupiah.

Repo hingga Swap Jadi Jalur Likuiditas Perbankan

BI tetap membuka akses likuiditas bagi perbankan melalui instrumen operasi moneter lain. Fasilitas repo tersedia mulai tenor satu minggu hingga 12 bulan.

Bank yang membutuhkan likuiditas dapat melakukan repo dengan surat berharga yang dimiliki, termasuk SBN dan SRBI. Jika tidak memiliki keduanya, perbankan bisa mengakses swap ke BI dengan menggunakan likuiditas valas.

"Kalau mereka SBN dan SRBI tidak punya, tapi punya likuiditas valas mereka bisa akses swap ke Bank Indonesia," ujar Erwin.

Fasilitas swap disediakan secara reguler dengan tenor satu, tiga, enam, hingga 12 bulan. Fasilitas itu menjadi bagian dari pengelolaan likuiditas bank yang menghadapi perbedaan jatuh tempo antara dana dihimpun dan kredit disalurkan.

"Bisnis bank itu mereka kan mengelola mismatch, melakukan collecting fund yang jangka pendek tapi kan pembiayaan kreditnya jangka panjang," pungkasnya.

Apa Artinya bagi Pelaku Pasar Uang

Bagi investor obligasi dan pelaku pasar uang, pengurangan volume SRBI berarti pasokan instrumen serap likuiditas berkurang secara bertahap. Dana yang sebelumnya parkir di tenor panjang berpotensi berpindah ke instrumen tenor lebih pendek.

Perbankan mendapat ruang lebih lega untuk mengelola likuiditas harian, terutama bank dengan porsi kredit jangka panjang besar. Namun BI menegaskan kalibrasi volume lelang SRBI akan terus disesuaikan dengan dinamika likuiditas pasar.

Follow denpasar24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks