BULELENG — Seorang profesor asal Jepang dinobatkan sebagai pakar terbaik Bahasa Bali di Negeri Sakura. Prof Mayuko Hara dari The University of Osaka telah meneliti dialek Bali Aga di kawasan pedesaan SCTPB—Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, dan Banyusri—selama dua dekade terakhir.
Bagi Mayuko, bahasa Bali bukan sekadar alat komunikasi. Ia melihat bahasa sebagai cerminan struktur sosial dan budaya masyarakat penuturnya. Prinsip ini membuatnya konsisten bolak-balik Jepang-Pedawa untuk mendalami dialek yang berbeda dari Bali Dataran.
Riset Soal Bentuk Hormat di Desa Pedawa
Salah satu karya monumentalnya adalah penelitian berjudul "Bentuk Hormat" Dialek Bahasa Bali Aga dalam Konteks Agama. Kajian ini membedah cara masyarakat pegunungan mengekspresikan kesantunan berbahasa tanpa terikat sekat kasta sosial tradisional.
Penelitian lapangan yang dipimpin Mayuko banyak menghabiskan waktu bersama penduduk Pedawa. Mereka bercakap tentang ritual, pertanian, hingga pengobatan dalam dialek setempat.
Persahabatan 35 Tahun dengan Peneliti Lokal
Di balik puluhan jurnal ilmiah, ada kisah persahabatan panjang antara Mayuko dan Sugi Lanus. Keduanya bertemu di bangku Kampus Universitas Udayana, Jimbaran, pada 1992 saat Mayuko masih menjadi mahasiswi S1 jurusan Bahasa Indonesia di Jepang.
"Kenapa ikut kelas bahasa Bali?" tanya Sugi saat itu. Mayuko menjawab dengan bahasa Indonesia fasih bahwa ia ingin memperdalam pemahaman bahasa Bali langsung dari akarnya.
Selama 35 tahun, hubungan mereka berkembang layaknya saudara kandung. Sugi sempat mengunjungi kampus Mayuko di Tokyo saat mendapat beasiswa pertukaran pemuda dari Perdana Menteri Jepang. Sebaliknya, Mayuko selalu menyempatkan bertemu setiap kali ke Indonesia, bahkan hingga ke Lombok.
Kontribusi untuk Kamus dan Kebijakan Bahasa
Di bidang leksikografi, Mayuko terlibat aktif dalam proyek pengembangan materi ajar tingkat lanjut serta penyusunan kamus dan glosarium praktis. Kolaborasinya membantu mahasiswa dan peneliti di Jepang memahami nuansa kontekstual di balik kosakata Indonesia dan Bali.
Ia juga mengamati aspek hukum pelestarian bahasa melalui studi berjudul Kebijakan Bahasa Bali yang Terlihat dalam Peraturan Perundang-undangan di Provinsi Bali.
Bagi Profesor Hara, mendokumentasikan kata berarti merawat ingatan sebuah peradaban. Sugi Lanus menjamin bahwa orang Jepang yang paling paham bahasa Bali secara akademis adalah Mayuko—dengan jam terbang terpanjang dan terdalam di wilayah kebahasaan Bali Aga.