BALI — Setiap anak memiliki perjalanan alergi yang berbeda-beda. Ada yang mengalami eksim di masa bayi, lalu muncul alergi makanan, dan kemudian berlanjut ke asma. Namun, ada juga yang justru berangsur membaik seiring bertambahnya usia. Perubahan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari adaptasi sistem imun yang terus berkembang.
Mengapa Alergi Anak Bisa Berubah?
Stephanie Leeds, ahli alergi dari Yale University, menjelaskan bahwa penyebab pasti seorang anak mengalami alergi masih terus diteliti. Faktor risiko memang sudah teridentifikasi, tapi interaksi antar faktor tersebut hingga memicu alergi belum sepenuhnya dipahami.
Yang menarik, riwayat alami alergi sangat bergantung pada jenis makanannya. Sebagai contoh, alergi susu dan telur sering kali bisa berkurang seiring waktu. "Anak bisa sembuh dari alergi ini secara bertahap," ujar Leeds. Biasanya, anak mulai bisa mentoleransi susu panggang atau telur panggang terlebih dahulu, sebelum akhirnya bisa menerima bentuk susu dan telur lainnya.
Hal ini berkaitan dengan struktur protein dalam makanan. Cara makanan diolah, dipanggang, atau dikonsumsi juga memengaruhi tingkat alergenisitasnya.
Terapi Baru untuk Mengatasi Alergi Anak
Kabar baiknya, penanganan alergi tidak lagi hanya sebatas menghindari makanan pemicu. Pendekatan kini bergeser ke arah pencegahan dan penanganan dini. Salah satu opsi yang semakin populer adalah imunoterapi oral.
Metode ini dilakukan dengan memberikan sejumlah kecil alergen makanan secara perlahan di bawah pengawasan medis. Tujuannya adalah membangun toleransi tubuh dan mengurangi risiko reaksi parah jika anak tidak sengaja terpapar alergen.
Kisah Nyata: Imunoterapi yang Mengubah Hidup
Sheila Loxton, ibu dua anak di Irlandia, merasakan sendiri manfaat terapi ini. Putranya, Josh, memiliki alergi terhadap kacang tanah, buncis, dan lentil. Setelah menjalani imunoterapi oral, Josh kini sembuh dari alergi buncis dan wijen, meskipun alergi kacang tanahnya masih ada.
"Ini bukan obat, tapi saya rasa ini adalah cara untuk mengurangi sensitivitas sistem kekebalan tubuh," ungkap Sheila. Pengalaman ini juga mendorongnya untuk mengenalkan makanan sejak dini kepada adik Josh, Erin, yang juga memiliki banyak alergi.
Pencegahan Dini dan Peran Orang Tua
Studi bernama Learning Early about Peanut Allergy (LEAP) menunjukkan bahwa pengenalan makanan sejak dini secara konsisten bisa menjadi langkah pencegahan alergi makanan yang efektif. Namun, ini harus dilakukan dengan hati-hati dan idealnya di bawah arahan dokter.
Selain imunoterapi oral, ada juga obat biologis yang dirancang untuk memengaruhi sistem kekebalan tubuh yang berperan dalam reaksi alergi. Terapi suntik juga tersedia untuk menangani berbagai kondisi, mulai dari eksim, asma, hingga alergi makanan.
Kapan Harus ke Dokter?
Meski alergi bisa berubah, Bunda tidak boleh mencoba memberikan kembali makanan pemicu alergi tanpa arahan dokter. Setiap anak memiliki kondisi dan respons yang berbeda.