Pencarian

Tradisi Kubur di Sema Desa Tigawasa Buleleng Kini Dibayangi Tumpukan Botol Plastik, Warga Terbelenggu Mitos

Rabu, 19 Agustus 2026 • 13:23:32 WIB
Tradisi Kubur di Sema Desa Tigawasa Buleleng Kini Dibayangi Tumpukan Botol Plastik, Warga Terbelenggu Mitos
Tumpukan botol plastik bekas air minum terlihat di kawasan sema (kuburan) Desa Tigawasa, Buleleng, Bali, yang disucikan masyarakat adat setempat.

BULELENG — Keyakinan leluhur yang dijaga ketat di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, kini berbenturan dengan persoalan sampah modern. Kawasan sema (kuburan) yang berwujud hutan alami dan disucikan masyarakat adat setempat, terpaksa menampung tumpukan botol plastik bekas air minum yang ditinggalkan usai upacara penguburan.

Ketut Sujana, warga Desa Tigawasa, menuturkan kondisi sema saat ini sangat memprihatinkan. Sampah plastik menumpuk di sejumlah titik, menggerus nilai sakral hutan yang selama ini dijaga sebagai warisan budaya dan spiritual.

Akar Masalah: Mitos yang Mengikat Warga

Persoalan ini tidak berakar pada kelalaian semata, melainkan sebuah kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Warga meyakini bahwa apa pun yang sudah dibawa masuk ke area sema tidak boleh dibawa kembali ke rumah karena dianggap akan membawa petaka.

Keyakinan ini membuat para pelayat meninggalkan botol dan kemasan plastik bekas minuman di lokasi pemakaman. Akibatnya, setiap kali ada prosesi penguburan, volume sampah di kawasan hutan keramat itu terus bertambah tanpa ada yang berani membersihkannya.

Kearifan Lokal yang Tergerus Sampah Modern

Desa Tigawasa merupakan salah satu desa tua di Bali yang masuk dalam kelompok Desa Bali Aga. Masyarakatnya dikenal teguh mempertahankan adat dan tradisi leluhur, termasuk tidak membakar jenazah melainkan menguburkannya di sema yang juga berfungsi sebagai kawasan hutan lindung.

Keberadaan hutan sema ini selama ini menjadi cermin keseimbangan antara penghormatan kepada leluhur dan pelestarian lingkungan. Namun, masuknya sampah plastik sekali pakai dalam ritual penguburan menjadi ironi tersendiri di tengah upaya pelestarian yang dijaga turun-temurun.

Belum Ada Penanganan dari Pihak Terkait

Hingga saat ini, permasalahan sampah di kawasan sema Desa Tigawasa belum mendapatkan tindak lanjut yang memadai. Tidak ada mekanisme adat maupun kebijakan desa yang secara khusus mengatur larangan membawa kemasan plastik ke area pemakaman atau skema pembersihan berkala.

Kondisi ini berpotensi mengganggu kebersihan, kelestarian lingkungan, serta kesakralan kawasan yang memiliki nilai adat tinggi bagi masyarakat. Jika dibiarkan, tumpukan sampah plastik yang sulit terurai akan semakin menggerus wajah hutan sema yang selama ini menjadi kebanggaan warga.

Persoalan ini menjadi pekerjaan rumah bagi desa adat dan pemerintah daerah untuk mencari solusi yang tidak melanggar keyakinan warga, namun tetap menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu opsi yang bisa dikaji adalah menyediakan tempat sampah khusus di area sema atau menunjuk petugas yang diperbolehkan membersihkan sampah tanpa harus membawanya ke rumah warga.

Follow denpasar24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: balebengong.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks