KLUNGKUNG — Lima kelompok krama istri dari Banjar Adat Selat ambil bagian dalam prosesi mepeed yang digelar secara massal. Sebelum berjalan menuju kompleks pura, para peserta berkumpul lebih dulu di Balai Banjar Selat, Desa Banjarangkan.
Gebogan yang dijunjung berisi buah segar, aneka jajanan pasar, serta sarana upakara yang ditata apik. Langkah kaki yang teratur dan beriringan menghadirkan pemandangan sakral di sepanjang rute menuju Pura Agung Kentel Gumi.
Momen Bersejarah bagi Krama Banjar Selat
Kelihan Adat Banjar Selat, Anak Agung Gde Anom Suryanata, menyebut pelaksanaan mepeed kali ini menjadi momen bersejarah bagi warganya. Kegiatan tersebut baru pertama kali digelar dalam rangkaian Karya Ngusaba Jagat di Pura Agung Kentel Gumi.
"Paiketan krama istri sangat antusias dan bersemangat mengikuti prosesi mepeed dalam persembahyangan bakti penganyar ini. Kami tidak memaksakan krama istri untuk ikut serta dan tetap memperhatikan kondisi ekonomi warga," ujar Anak Agung Gde Anom Suryanata.
Menurutnya, semangat melestarikan tradisi tetap diimbangi kebijaksanaan agar tidak memberatkan kondisi finansial masing-masing keluarga. Partisipasi warga pun tumbuh murni atas dasar ketulusan dan kesadaran bersama.
Persiapan Sepekan dan Kreasi Corak Banten Tiap Kelompok
Ni Ketut Novi Budayanti, krama istri dari kelompok dua, mengungkapkan persiapan mepeed telah dimatangkan sejak sepekan sebelum hari pelaksanaan. Penataan sarana banten dilakukan dengan konsep sederhana, namun tetap estetis dan nyaman dijunjung selama perjalanan.
Setiap kelompok juga berkreasi menentukan corak warna banten masing-masing. Koordinasi intensif dilakukan mengingat momen ini menjadi pengalaman perdana bagi para peserta dalam menyemarakkan upacara di Pura Agung Kentel Gumi.
Rangkaian Ngusaba Jagat Berlangsung hingga 5 November
Puncak Karya Ngusaba Jagat di Pura Agung Kentel Gumi telah dilaksanakan pada 25 Oktober 2026. Rangkaian upacara nyejer dijadwalkan berlangsung hingga 5 November 2026 mendatang.
Kehadiran tradisi mepeed perdana oleh krama istri Banjar Adat Selat memperkaya dinamika pelestarian adat dan budaya Bali. Prosesi itu sekaligus merefleksikan nilai gotong royong, ketulusan dalam beryadnya, serta komitmen masyarakat menjaga warisan leluhur secara berkelanjutan.