BALI — Tekanan terhadap rupiah spot diperkirakan lebih terbatas menjelang keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia hari ini, setelah kemarin ditutup melemah 0,21% ke Rp17.884 per dolar AS. Harga minyak yang berangsur melandai akibat kemajuan perundingan dengan Iran untuk mengakhiri perang membawa ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah. Pelaku pasar kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang diperkirakan kembali menahan suku bunga.
Konsensus Bloomberg terhadap ekonom dan analis menghasilkan median estimasi 5,75% untuk BI Rate. Artinya, mayoritas pelaku pasar memperkirakan Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan pada level yang sama. Keputusan RDG hari ini menjadi penentu arah rupiah dalam beberapa sesi ke depan.
Pergerakan rupiah di pasar spot diperkirakan berada di rentang Rp17.790 hingga Rp17.890 per dolar AS. Rentang itu lebih sempit dibandingkan volatilitas yang terjadi pada sesi sebelumnya, ketika rupiah sempat berada dalam posisi rawan sebelum akhirnya melemah 0,21%.
Harga Minyak Melandai Buka Ruang bagi Mata Uang Asia
Penurunan harga minyak mentah global menjadi faktor utama yang meredam tekanan terhadap mata uang kawasan. Brent berada di kisaran US$99,1 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di level US$90,05 per barel. Pelemahan harga minyak didorong oleh kemajuan perundingan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Kondisi itu langsung terasa di pasar valuta Asia. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,53%, disusul baht Thailand 0,19%, ringgit Malaysia 0,09%, yuan offshore 0,04%, dan dolar Hong Kong 0,02%. Hanya yen Jepang yang berada di zona merah dengan pelemahan terbatas.
Mengapa RDG BI Jadi Penentu Arah Rupiah
Perhatian utama pelaku pasar domestik tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Keputusan suku bunga acuan akan menjadi sinyal seberapa agresif bank sentral menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Jika BI mempertahankan suku bunga sesuai konsensus, pasar diperkirakan merespons dengan pergerakan rupiah yang relatif stabil dalam rentang yang sudah diperkirakan. Sebaliknya, kejutan di luar ekspektasi berpotensi memicu volatilitas jangka pendek.
Pergerakan Mata Uang Asia Jadi Indikator Pendukung
Penguatan mata uang kawasan memberikan konteks penting bagi posisi rupiah. Ketika won, baht, dan ringgit bergerak menguat terhadap dolar AS, tekanan terhadap rupiah cenderung ikut berkurang karena aliran dana asing kembali masuk ke aset negara berkembang.
Pelaku pasar valuta asing umumnya mencermati kombinasi antara harga komoditas, sentimen regional, dan keputusan bank sentral domestik. Ketiga faktor itu kini berada dalam posisi yang relatif mendukung stabilitas rupiah jangka pendek, meski ketidakpastian global masih membayangi.