DENPASAR — Target pertumbuhan ekonomi 5,6–6,4 persen dalam RAPBD Provinsi Bali 2027 dinilai tidak bisa dicapai dengan mengandalkan pola lama. Ekonom Universitas Udayana Prof Ida Bagus Putu Purba Darmaja menyebut batas bawah target sekitar 5,6 persen sangat realistis, merujuk pada pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang 2025 dan 2026 yang tengah berjalan.
Persoalan muncul saat pemerintah mengejar batas atas 6,4 persen. Purba memetakan hambatan itu ke dalam dua kelompok besar: tantangan eksternal dan tantangan internal.
Gejolak Geopolitik Global dan Kerentanan Sektor Pariwisata
Dari sisi eksternal, gejolak geopolitik global menjadi tantangan tersendiri bagi Bali. Struktur ekonomi daerah yang didominasi sektor pariwisata membuat Bali sangat bergantung pada kondisi dunia.
"Ekonomi Bali kan didominasi pariwisata, sementara itu sektor pariwisata punya kepekaan atau kerentanan," ungkap Purba.
Artinya, setiap gejolak global berpotensi langsung terasa di Bali, mulai dari kunjungan wisatawan hingga belanja di sektor penunjang seperti akomodasi, kuliner, dan transportasi.
Investasi Harus Produktif, Bukan Sekadar Tercatat
Dari sisi internal, pemerintah diminta memastikan investasi yang masuk ke Bali benar-benar produktif. Investasi tidak cukup hanya mengalir, tetapi harus mampu meningkatkan kapasitas ekonomi dan menggerakkan sektor riil.
"Kedua investasi itu harus produktif. Jadi ada investasi yang produktif, kemudian melahirkan produktivitas, sehingga mempengaruhi kapasitas ekonomi. Dan itu juga akan menjadi penggerak dari sektor-sektor rill," ungkapnya.
Tanpa produktivitas, tambahan investasi hanya menjadi angka di atas kertas dan tidak menciptakan lapangan kerja maupun nilai tambah bagi warga.
Dua Syarat agar Target 6,4 Persen Bisa Dikejar
Purba menegaskan target 6,4 persen masih mungkin dicapai jika dua tantangan tersebut diantisipasi. Pemerintah membutuhkan langkah akseleratif, bukan pendekatan biasa.
Akselerasi itu menurutnya bisa ditempuh lewat dua jalur. Pertama, memaksimalkan produktivitas investasi. Kedua, mengoptimalkan dukungan transfer pemerintah pusat.
Kedua faktor tersebut dinilai dapat memperbesar kapasitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan sektor riil di Bali.
"Percepatan bisa dicapai jika kondisi-kondisi yang mendorong pertumbuhan ekonomi ini disiapkan. Bali punya potensi itu, sehingga bisa mencapai target 6,4 persen," ujarnya.
Pariwisata Berkelanjutan dan Efek ke Masyarakat Bali
Selain menjaga produktivitas investasi, Bali perlu memastikan pertumbuhan pariwisata memberi dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Purba mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan yang tetap memperhatikan lingkungan sekaligus memperbesar efek pengganda ekonomi.
"Tantangan yang lain adalah bagaimana menciptakan suatu konsep pariwisata berkelanjutan berbasis lingkungan, tetapi juga memberikan trickle down effect yang besar, khususnya masyarakat Bali," katanya.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang dikejar tidak boleh hanya dinikmati pelaku usaha besar. Warga Bali, termasuk pelaku UMKM dan pekerja di sektor informal, harus merasakan manfaat langsung dari setiap kenaikan angka pertumbuhan.
RAPBD Provinsi Bali 2027 kini menjadi dokumen kunci untuk menguji apakah target 5,6–6,4 persen berjalan sebagai rencana yang terukur atau sekadar angka di atas kertas.