BALI — THINC Indonesia 2026 digelar di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort pada 9–10 September 2026, mempertemukan pemimpin industri hospitality dan real estate membahas masa depan pariwisata mewah Tanah Air. Edisi ke-11 konferensi ini mengangkat panel "Leisure: Where are the New Destinations" yang menyoroti potensi destinasi sekunder dan tersier di luar hotspot mapan. Diskusi berlangsung saat minat wisatawan kelas atas terhadap privasi dan pengalaman imersif terus meningkat.
Fokus utama tahun ini bergeser dari sekadar pertanyaan "ke mana wisatawan ingin pergi" menjadi "bagaimana destinasi baru membangun identitas yang cukup kuat". Identitas itu dinilai kunci menarik segmen wisatawan bernilai tinggi.
Destinasi Sekunder dan Tersier Jadi Sorotan
Panel "Leisure: Where are the New Destinations" menjadi salah satu sesi paling dinanti. Diskusi mengeksplorasi bagaimana wilayah di luar pusat pariwisata mapan dapat membangun daya tarik sendiri.
Pendorongnya bukan tanpa alasan. Infrastruktur di berbagai wilayah kepulauan terus berkembang, sementara minat wisatawan terhadap privasi, autentisitas, dan pengalaman imersif ikut naik. Destinasi leisure baru pun mulai dilirik pengembang dan investor yang mencari frontier berikutnya.
Bagi pasar yang sudah matang, tantangannya justru semakin kompleks. Operator dituntut melihat melampaui model pariwisata konvensional untuk menemukan lokasi dengan potensi identitas luxury tersendiri.
Desain sebagai Bahasa Strategis Destinasi
Arsitektur dan desain interior kini bukan lagi urusan estetika semata. Keduanya menjadi bagian dari bahasa strategis sebuah destinasi untuk membangun identitas di pasar internasional.
Branded residences dan proyek hospitality kelas atas merespons tren ini dengan memadukan luxury design, lifestyle brands, dan real estate. Kemitraan dengan rumah mode, brand otomotif, hingga perusahaan desain internasional dinilai mampu memberi identitas khas sekaligus membangun hubungan emosional dengan calon penghuni maupun tamu.
Gianfranco Bianchi, Founder and CEO of Italian Atelier serta Chief Commercial Officer dan General Manager Asia Pacific of The One Atelier, menekankan pentingnya keterkaitan tersebut.
"Kurasi desain yang exceptional dan kemitraan brand yang dipilih secara strategis dapat memainkan peran penting dalam memberikan identitas yang distinctive sekaligus memiliki daya tarik komersial bagi destinasi yang sedang berkembang," ujarnya.
Pandangan itu mencerminkan evolusi lebih luas di sektor luxury real estate. Konsumen semakin selektif soal bagaimana dan di mana mereka menghabiskan waktu, sehingga nilai properti melampaui spesifikasi fisiknya.
Infrastruktur Saja Tidak Cukup
Diskusi di THINC juga menyoroti perubahan fundamental dalam pengembangan emerging travel hubs. Infrastruktur tetap fondasi penting, tetapi tidak cukup untuk menciptakan sebuah destinasi.
Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana potensi lokal diolah menjadi pengalaman terkurasi. Destinasi baru perlu memadukan rasa discovery dengan kualitas layanan, infrastruktur, dan desain yang memenuhi ekspektasi pasar luxury internasional.
Bagi wisatawan yang tengah merencanakan perjalanan ke destinasi emerging di Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Pilihan akomodasi dan pengalaman di wilayah sekunder diprediksi bertambah dalam beberapa tahun ke depan seiring masuknya investasi hospitality.
Informasi terkini soal agenda, peserta, dan hasil konferensi dapat dikonfirmasi melalui penyelenggara THINC Indonesia atau kanal resmi Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort.