BALI — Studi edisi 2026 dari Here Technologies dan SBD Automotive menggambarkan pergeseran minat konsumen AS terhadap kendaraan listrik. Survei yang dilakukan kedua perusahaan itu menyoroti harga bahan bakar sebagai pemicu utama, di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Iran. Harga solar pekan ini dilaporkan menembus rekor lebih dari 6 dolar per galon.
Bagi sebagian besar pengemudi, beralih ke mobil listrik dinilai sebagai opsi paling praktis dibandingkan sumber energi alternatif lain yang butuh penyesuaian besar. Temuan ini menarik karena datang dari pasar yang kebijakan pemerintahnya justru memangkas insentif kendaraan listrik.
Harga Bensin Jadi Pemicu, Bukan Lagi Isu Lingkungan
Dari seluruh responden pengemudi AS, 56 persen menyatakan harga bensin yang mahal telah meningkatkan ketertarikan mereka pada mobil listrik. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa faktor ekonomi, bukan idealisme lingkungan, yang kini mendorong peralihan.
Survei ini dilakukan setiap tahun untuk memetakan kecepatan pertumbuhan pasar kendaraan listrik di berbagai negara. Selain laju adopsi, studi juga mengukur hambatan yang masih tersisa di masing-masing wilayah.
Kekhawatiran Soal Charger Mulai Berkurang
Ketersediaan stasiun pengisian daya publik yang selama ini jadi penghalang utama perlahan bukan lagi masalah besar. Sebanyak 47 persen responden menilai jumlah charger publik sudah memadai, naik tajam dari 28 persen pada 2025.
Kalangan pemilik mobil listrik sendiri lebih optimistis lagi. Sekitar 85 persen dari mereka menilai infrastruktur yang ada sekarang sudah cukup, sejalan dengan kebiasaan mengisi daya di rumah ketimbang harus mampir ke stasiun umum.
Meski begitu, solusi setara untuk penghuni apartemen masih sulit ditemukan. Kemampuan mencolok kendaraan semalaman tanpa perlu perjalanan khusus ke charger disebut sebagai faktor yang mengubah pengalaman kepemilikan.
Harga Mobil Listrik Masih Jadi Penghalang Terbesar
Berbeda dari survei-serunai sebelumnya yang kerap menyoroti kecemasan soal jarak tempuh, kali ini faktor harga yang paling dominan. Dua dari lima pengemudi yang disurvei menilai mobil listrik masih terlalu mahal.
Kondisi itu menjelaskan mengapa sejumlah pabrikan mulai bertaruh pada pikap listrik murah. Ford disebut meyakini bisa menjual 100.000 unit Fathom pada tahun pertama produksi, jumlah yang butuh lima tahun diraih F-150 Lightning sebelum akhirnya dihentikan.
Pemilik Mobil Listrik Jarang Kembali ke Mesin Bensin
Studi menemukan loyalitas pemilik mobil listrik tergolong tinggi. Sebanyak 77 persen pemilik menyatakan kemungkinan besar akan mengganti kendaraan mereka dengan mobil listrik lagi.
Temuan itu sejalan dengan survei-serunai sebelumnya. Pertanyaan yang belum terjawab adalah berapa banyak rumah tangga responden yang juga masih memiliki mobil bensin, dan bagaimana pola pemakaian keduanya dibagi.
Penjualan Baru Lesu, Pasar Mobil Listrik Bekas Tetap Tumbuh
Penjualan mobil listrik baru anjlok setelah pemerintahan Trump memangkas insentif, program infrastruktur pengisian daya, dan aturan emisi. Di tengah kondisi itu, penjualan mobil listrik bekas justru bertahan sebagai titik terang pasar.
Jika harga bensin tetap tinggi, jumlah mobil bekas yang tersedia dikhawatirkan tidak cukup menampung permintaan. Situasi ini berpotensi memaksa konsumen kembali melirik mobil listrik baru, meski tanpa dukungan insentif seperti sebelumnya.