BADUNG — Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali Anak Agung Bagus Tri Candra Arka, yang dikenal sebagai Gung Cok, menilai longsor di Eco Park Pelaga menjadi peringatan bagi penataan akomodasi wisata di Badung Utara. Pihaknya meminta pengawasan kawasan hulu diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.
Golkar Bali, kata Gung Cok, sudah berulang kali mendorong Pansus TRAP DPRD Bali turun mengawasi kawasan hulu. Pansus tersebut sebelumnya pernah melakukan sidak langsung ke kawasan hulu di daerah Tabanan.
Mengapa Kawasan Hulu Jadi Titik Rawan Longsor
Pengawasan dinilai krusial untuk memantau mega proyek maupun pembalakan yang merusak tutupan hutan. Alih fungsi lahan dan perusakan ekosistem di wilayah perbukitan disebut menjadi pemicu bencana yang bisa dicegah sejak dini.
"Fungsi pengawasan dan pengecekan melalui sidak Pansus ke wilayah hulu hingga proyek-proyek di tengah hutan merupakan hal yang sangat vital. Kita ingin menghindari terjadinya musibah atau bencana tanah longsor akibat penebangan pohon dan kerusakan alam," tegas Gung Cok.
Ia menambahkan, pengawasan ketat harus dilakukan agar tidak ada aktivitas pembangunan yang merugikan lingkungan, merusak alam Bali, serta mengancam keselamatan masyarakat maupun wisatawan.
Pengamat Sebut Longsor Pelaga Semestinya Tak Terjadi
Pengamat ekonomi pariwisata dan kebudayaan Jro Gde Sudibya menilai peristiwa di Pelaga menjadi peringatan keras bagi penataan akomodasi wisata berbasis perdesaan di Badung Utara. Menurutnya, bencana itu semestinya tidak terjadi bila setiap pembangunan fasilitas wisata alam mematuhi kajian Amdal yang kredibel dan diawasi profesional di lapangan.
"Peristiwa longsor di Eco Park Pelaga patut disesalkan dan semestinya tidak terjadi jika proyek ini disertai Amdal yang kredibel dengan pengawasan lapangan yang profesional. Musibah ini semestinya menjadi pelajaran berharga bagi Pemda untuk melakukan langkah koreksi dan pengawasan bertanggung jawab atas keberadaan seluruh vila perdesaan di Badung Utara," ujar Jro Gde Sudibya.
Bukit Bon hingga Bukit Mangu Diminta Tetap Terjaga
Jro Gde Sudibya menekankan pentingnya menjaga kesucian kawasan hulu Badung Utara yang membentang dari Bukit Bon hingga Bukit Mangu. Kawasan itu disebutnya sebagai benteng ekologis sekaligus spiritual Bali.
Pengembangan pariwisata perdesaan, lanjutnya, sepatutnya memegang prinsip keberlanjutan lingkungan dan filosofi paras-paros demi kesejahteraan bersama tanpa mengorbankan keselamatan jiwa.
"Kita sedang berjuang bersama mewujudkan pariwisata perdesaan yang bersahabat dengan lingkungan dan berkeadilan. Menemukan kembali tradisi sosialistik religius, berangkat dari keyakinan Niskala mengembangkan ekonomi berkeadilan dan paras-paros untuk kesejahteraan bersama," pungkasnya.
Dorongan Golkar Bali bersama para tokoh akademisi itu diharapkan ditindaklanjuti dengan audit perizinan menyeluruh serta sidak lapangan secara masif di kawasan rawan bencana. Tujuannya menjaga keselamatan publik dan kelestarian alam Pulau Dewata.