Pencarian

Inflasi Bali Agustus 2026 Tembus 3,45 Persen, Buleleng Jadi Wilayah dengan Tekanan Harga Tertinggi

Rabu, 02 September 2026 • 14:36:31 WIB
Inflasi Bali Agustus 2026 Tembus 3,45 Persen, Buleleng Jadi Wilayah dengan Tekanan Harga Tertinggi
Warga beraktivitas di Pasar Badung, Denpasar, Bali, saat harga sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan pada Agustus 2026.

DENPASAR — Tiga dari empat kabupaten/kota pemantau Indeks Harga Konsumen (IHK) di Pulau Dewata mencatat inflasi di atas rata-rata provinsi sepanjang Agustus 2026. Buleleng memimpin dengan inflasi bulanan 1,12 persen atau 3,61 persen secara tahunan, disusul Denpasar di angka 0,65 persen dan Tabanan 0,33 persen untuk periode yang sama.

Kondisi ini berbalik drastis dibanding Juli lalu yang sempat mencatat deflasi 0,51 persen. Kenaikan harga terjadi saat kunjungan wisatawan mancanegara memuncak dan permintaan bahan pangan melonjak seiring banyaknya hajatan adat, pernikahan hingga ngaben di berbagai desa.

Meski begitu, Angka inflasi tahunan Bali yang mencapai 3,45 persen tercatat sedikit lebih tinggi dari nasional sebesar 3,19 persen, namun masih aman dalam target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus satu persen.

Penyumbang Inflasi: Daging Ayam, Tiket Pesawat, dan Biaya Sekolah

Tekanan harga terbesar bulan lalu datang dari kenaikan harga daging ayam ras yang dipicu peningkatan permintaan selama musim upacara adat. Tarif angkutan udara juga ikut merangkak naik seiring lonjakan penumpang domestik dan mancanegara selama periode liburan.

Kelompok lain yang ikut menyumbang inflasi adalah harga buncis, nasi dengan lauk yang banyak dijual di warung makan, serta biaya sekolah dasar. Hal ini beriringan dengan normalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali berjalan penuh usai libur sekolah selesai.

Sebaliknya, sejumlah komoditas mencatat penurunan harga dan sedikit meredam laju inflasi. Bawang merah, bawang putih, bensin, tomat, dan kaos oblong pria menjadi penyangga utama agar kenaikan tidak lebih dalam lagi.

Mengapa Buleleng Paling Terdampak?

Sebagai kawasan bagian utara Bali yang tidak terlalu bergantung pada pariwisata bahari, tekanan harga di Buleleng justru paling tinggi. Achris Sarwani menjelaskan bahwa kenaikan itu tak lepas dari tingginya biaya distribusi pangan dari sentra produksi menuju pasar-pasar di wilayah tersebut.

Berbeda dengan Denpasar atau Badung yang memiliki akses logistik lebih cepat, Buleleng masih mengandalkan pasokan dari daerah lain melalui jalur darat yang lebih panjang. Ketika permintaan melonjak saat upacara adat, harga di tingkat pedagang eceran langsung bereaksi lebih cepat.

Pada saat yang sama, aktivitas pertanian di kawasan Bali Utara tengah memasuki musim tanam, sehingga pasokan sayuran dari petani lokal belum maksimal. Kondisi ini membuat pasar di Buleleng lebih bergantung pada kiriman dari kabupaten tetangga sehingga harganya lebih sensitif terhadap biaya angkut.

El Nino dan Biaya Logistik Global Mengintai Tekanan Harga Baru

BI Bali mengingatkan bahwa tantangan tidak berhenti meski Agustus telah berlalu. Permintaan barang dan jasa diprediksi masih tinggi selama periode puncak kunjungan wisatawan asing hingga akhir September 2026.

Di sisi produksi, ancaman musim kemarau panjang yang diperkuat fenomena El Nino dapat menekan produktivitas pertanian di beberapa sentra sayur dan buah. Jika pasokan lokal menurun, harga komoditas pangan berpotensi kembali merangkak naik pada bulan-bulan mendatang.

Konflik geopolitik yang memicu tingginya biaya angkutan barang global juga turut menjadi perhatian karena berisiko menaikkan harga barang impor yang masuk ke Bali. Tekanan ini utamanya akan terasa pada bahan pangan olahan dan barang konsumsi lain yang bergantung pada pasokan luar negeri.

Strategi 4K dan Operasi Pasar Jadi Kunci Penjaga Inflasi

Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus memperkuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali. Fokus utama difokuskan pada empat arah yang dikenal dengan strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Achris Sarwani menegaskan bahwa capaian inflasi Bali yang tetap terjaga di rentang sasaran merupakan buah dari apresiasi dan dukungan terhadap langkah-langkah TPID, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar di seluruh wilayah.

Gerakan Pangan Murah (GPM) terus digelar di berbagai titik untuk menstabilkan harga komoditas strategis. Selain itu, kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan dioptimalkan untuk memastikan pasokan bahan pokok dari luar Bali dapat masuk dengan lancar saat produksi lokal berkurang.

Bank Indonesia dan pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan sarana serta prasarana pertanian bagi kelompok tani. Langkah ini ditempuh agar produktivitas pangan lokal dapat dijaga meskipun kondisi cuaca tidak mendukung pada musim kemarau mendatang.

Follow denpasar24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kabarnusa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks