BALI — Proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung berkapasitas besar tengah dibangun di Bali dan diklaim sebagai yang terbesar di dunia. Pembangunan proyek ini menjadi bagian dari target pemerintah untuk mempercepat transisi energi terbarukan di Indonesia, dengan fokus utama memasok kebutuhan listrik di wilayah Bali dan sekitarnya.
Proyek ini digarap oleh konsorsium yang melibatkan badan usaha milik negara dan pengembang swasta. Keberadaannya dinilai strategis karena menempati area perairan yang luas, memanfaatkan teknologi panel surya mengapung untuk mengoptimalkan paparan sinar matahari tropis yang melimpah sepanjang tahun.
Mengapa Proyek Ini Menjadi Prioritas Nasional
Pemerintah pusat menempatkan proyek PLTS ini dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Tujuannya bukan hanya menambah kapasitas listrik, tetapi juga menekan emisi karbon di sektor kelistrikan yang selama ini masih didominasi bahan bakar fosil.
Lokasi yang dipilih berada di perairan yang relatif tenang, sehingga konstruksi panel surya di atas air dinilai lebih efisien dibandingkan di daratan. Selain itu, lahan di Bali yang terbatas menjadi alasan utama teknologi terapung dipilih untuk proyek berskala raksasa ini.
Berapa Kapasitas yang Disuntikkan ke Jaringan Listrik Bali
Setelah beroperasi nanti, PLTS ini akan menyuntikkan daya listrik dalam jumlah signifikan ke jaringan transmisi milik PLN. Kapasitas tersebut diharapkan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan listrik rumah tangga, kawasan pariwisata, dan kawasan industri di Bali.
Pasokan listrik dari proyek ini juga diarahkan untuk mendukung target pemerintah daerah menjadikan Bali sebagai destinasi wisata berbasis ekonomi hijau. Kawasan pariwisata seperti Kuta, Ubud, dan Nusa Dua akan menjadi prioritas penerima pasokan listrik bersih ini.
Kapan Proyek Ini Mulai Dibangun dan Beroperasi
Proses konstruksi proyek telah dimulai dan berjalan secara bertahap. Pengerjaan awal difokuskan pada pemasangan struktur pondasi apung dan instalasi modul surya di atas permukaan air.
Memasuki 2026, proyek ini ditargetkan rampung dan siap dilakukan uji coba sinkronisasi dengan jaringan listrik yang ada. Jika uji coba berjalan lancar, PLTS ini akan resmi beroperasi komersial dan menjadi pemasok listrik hijau terbesar di kawasan timur Indonesia.
Apa Dampaknya bagi Warga dan Lingkungan Bali
Kehadiran proyek ini diharapkan mampu menstabilkan pasokan listrik, terutama saat musim liburan panjang ketika kebutuhan energi melonjak drastis. Penggunaan energi surya juga akan mengurangi ketergantungan pada pembangkit diesel yang selama ini menjadi penyokong saat beban puncak.
Dari sisi lingkungan, proyek ini diproyeksikan menurunkan emisi karbon dalam jumlah besar setiap tahunnya. Angka ini setara dengan penanaman jutaan pohon, sebuah kontribusi nyata bagi upaya pelestarian lingkungan di Pulau Dewata.
Pemerintah daerah menyambut baik proyek ini karena sejalan dengan visi pembangunan Bali yang berkelanjutan. Ke depan, keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi model pengembangan energi terbarukan untuk wilayah kepulauan lain di Indonesia.
Proyek ini juga membuka peluang kerja sama antara pemerintah pusat, investor global, dan perusahaan lokal dalam hal transfer teknologi. Perawatan jangka panjang dan pengelolaan operasional akan menjadi pekerjaan rumah bersama agar investasi energi bersih ini memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat Bali.