JAKARTA — Tekanan jual di bursa saham domestik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Setelah terkoreksi cukup dalam pada perdagangan Rabu kemarin, IHSG diprakirakan masih akan betah di teritori negatif hari ini, dibayangi sentimen pelemahan nilai tukar rupiah dan sikap wait-and-see investor terhadap kondisi fundamental ekonomi di dalam negeri.
Data perdagangan menunjukkan aksi jual investor asing masih mendominasi dengan total net sell mencapai Rp201,10 triliun. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti TPIA, ISAT, AMMN, BBNI, dan ITMG menjadi sasaran utama pelepasan portofolio oleh asing.
BI Perketat Pengawasan Lalu Lintas Devisa
Di tengah tekanan pasar, Bank Indonesia (BI) bergerak dengan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa. Langkah ini diambil seiring semakin kompleksnya transaksi lintas negara dan potensi praktik under-invoicing dalam kegiatan ekspor.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menyampaikan bahwa penguatan pengawasan ini diperlukan untuk mengoptimalkan pengelolaan data serta menjaga kedaulatan ekonomi nasional. BI juga akan meningkatkan sinergi dan koordinasi implementasi kebijakan dengan Kementerian/Lembaga dan pemangku kepentingan lainnya.
Anggaran KIP Kuliah 2027 Naik Jadi Rp15,37 Triliun
Dari sisi kebijakan fiskal, Pemerintah memproyeksikan anggaran Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah pada tahun 2027 mencapai Rp15,37 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk membiayai pendidikan 966.623 mahasiswa penerima bantuan.
Nilai ini meningkat dibandingkan pagu anggaran tahun 2026 yang sebesar Rp15,3 triliun. KIP Kuliah menjadi salah satu stimulus ekonomi pemerintah melalui sektor pendidikan, yang diharapkan mampu mendorong daya beli masyarakat sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga miskin dan rentan miskin.
Bagaimana Dampak Data Inflasi AS ke Bursa Global?
Dari eksternal, bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Rabu kemarin. Data inflasi dari pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditure (PCE) bulan Juli tercatat sebesar 3,7 persen secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan pasar yang sebesar 3,6 persen.
Ekonomi AS sendiri tumbuh 1,5 persen pada triwulan II 2026, sesuai estimasi. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan 2,1 persen pada triwulan I 2026.
Sementara itu, mayoritas bursa Asia justru menguat pada penutupan perdagangan Rabu kemarin. Penguatan ini ditopang oleh turunnya harga minyak mentah, seiring adanya harapan pembukaan kembali Selat Hormuz. Harga minyak Brent tercatat turun tipis ke level USD87 per barel, yang dinilai dapat menekan tekanan inflasi global dan mengurangi urgensi kenaikan suku bunga oleh The Fed.