DENPASAR — Lukisan 'Malam Temaram' karya I Wayan Sujana Suklu tidak menampilkan malam sebagai kanvas gelap yang polos. Dari kejauhan, mata disuguhi suasana malam yang pekat dengan sebuah lingkaran kuning-oranye di kanan atas, menyerupai purnama. Namun, saat pengunjung mendekat, kejutan mulai terasa: bulan itu ternyata tersusun dari ribuan garis kurva, lengkungan, dan bentuk bulan sabit yang diulang dalam barisan horizontal.
Karya berukuran 150 × 195 sentimeter dengan medium acrylic, sodas, dan glue on canvas ini menjadi bagian dari pameran nasional 'Rupa Jnana Rasmi' yang digelar di Nata-Citta Art Space, ISI Bali. Pameran yang diikuti puluhan seniman ini dibuka oleh pecinta seni dan pengusaha pariwisata Ida Bagus Sidharta Putra.
Bulan yang Dilahirkan oleh Malam
Suklu tidak melukis malam secara konvensional. Ia membangunnya dari repetisi ribuan garis sederhana yang ketika dikumpulkan berubah menjadi ritme, tekstur, dan kepadatan. Warna gelap seperti hitam, cokelat, hijau tua, dan nuansa tanah mendominasi permukaan, diselingi garis cokelat-oranye yang terasa hangat—seperti sisa cahaya saat malam mulai menyelimuti.
Cara melihat lukisan ini berubah sesuai jarak. Dari dekat, mata menangkap satu per satu tanda kecil. Sedikit menjauh, yang terlihat adalah pengulangan. Dari jarak lebih jauh, semuanya menyatu menjadi medan dan tekstur yang menghadirkan suasana malam secara utuh.
Di balik ribuan tanda itu tersimpan proses tubuh sang perupa. Setiap lengkungan lahir dari gerakan tangan yang diulang-ulang, menjadikan lukisan seperti rekaman dari proses penciptaannya. Pengulangan yang terus-menerus justru memberi ruang bagi munculnya perbedaan—jarak antartanda, tekanan tangan, hingga ritme gerakan membuat tidak ada satu tanda pun yang benar-benar sama.
Menghubungkan Bali dan Jeju Lewat Ingatan
Karya ini juga membawa gagasan utama seri 'Purnama di Bali, Ingatan di Jeju' yang menghubungkan dua pulau. Suklu tidak menggambarkan gunung, pantai, atau penanda geografis kedua tempat. Yang dibawanya adalah jejak pengalaman ketika purnama menjadi penghubung antara malam di Bali dan ingatan tentang Jeju.
"Kami bersama sejumlah seniman pernah melakukan muhibah seni dan pameran di Jeju, sebuah pulau di Korea Selatan yang memiliki kemiripan identitas budaya dengan Bali—mulai dari kepercayaan kuno hingga aset pariwisata yang dirawat dengan baik," kata Suklu kepada media saat pembukaan pameran.
Bagi Suklu yang juga dosen seni rupa ISI Bali, purnama bukan sekadar objek langit. Ia menjadi titik yang mempertemukan malam sekarang dengan malam-malam yang pernah dialami—tentang perjalanan, perjumpaan, kesunyian, hingga tempat yang pernah ditinggalkan. Malam dalam lukisan ini terasa belum selesai; barisan garis yang bergerak horizontal seolah dapat terus berlanjut melewati batas kanvas.
Lewat 'Malam Temaram', Suklu menunjukkan bahwa sebuah garis sederhana, jika terus diulang, dapat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: malam, purnama, sekaligus ruang bagi ingatan. Pameran ini dapat dikunjungi masyarakat umum hingga 25 September 2026 di Nata-Citta Art Space, ISI Bali, Denpasar.