BADUNG — Persoalan sampah laut yang mengancam sektor pariwisata dan operasional industri kini coba dijawab dengan teknologi. Pertamina bersama ITS meluncurkan kapal trash skimmer otonom di Pantai Sekeh, Badung, Rabu, sebagai solusi pengumpulan sampapah terapung yang lebih efisien.
Kapal Catamaran Bertenaga Surya Ini Bisa Deteksi Sampah Otomatis
Kapal dengan desain lambung catamaran ini tidak sekadar mengumpulkan sampah. Teknologi di dalamnya mencakup sensor ultrasonik, kamera, GPS, dan kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan kapal mendeteksi serta mengumpulkan sampah secara mandiri. Data dari sistem monitoring real-time bisa diakses kapan saja.
Motor listrik hibrida yang dipadukan panel surya membuat kapal ini beroperasi rendah emisi. Di bagian tengah, terdapat jaring pengumpul sampah dan mesin pencacah plastik untuk mendukung proses daur ulang. Sebuah katrol elektrik berkapasitas 500 kilogram memudahkan pengangkatan sampah ke darat.
Alasan Pertamina: Sampah Laut Mengancam Baling-Baling Kapal hingga Pariwisata Bali
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menekankan urgensi program ini. “Persoalan tentang sampah ini tidak hanya mengganggu keindahan pantai, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan dan perekonomian Bali melalui sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Dari sisi industri, Iriawan menambahkan, sampah laut merupakan risiko operasional. “Sampah dapat mengganggu baling-baling kapal, menyumbat sistem pendingin peralatan dan mesin-mesin, sehingga berpotensi mengganggu kelancaran distribusi energi,” imbuhnya.
Program ini merupakan bagian dari implementasi nilai lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) Pertamina serta perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Tak Hanya di Bali, Program Bakal Direplikasi ke 8 Lokasi Lain
Selain di AFT Ngurah Rai dan Patra Jasa Bali, proyek percontohan trash skimmer juga berjalan di FT Kotabaru, Kalimantan, dengan target pengurangan sampah pesisir hingga 20 ton per tahun. Ke depan, Pertamina berencana memperluas program ke delapan lokasi lain, termasuk Integrated Terminal Cilacap, Integrated Terminal Balongan, Fuel Terminal Maos, Fuel Terminal Ternate, Fuel Terminal Wayame, Fuel Terminal Parepare, Fuel Terminal Masohi, dan FT Labuan Bajo.
“Ke depan, program ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah perairan berbasis teknologi yang dapat direplikasi di berbagai wilayah operasi Pertamina yang berdekatan di wilayah pesisir di seluruh Indonesia,” kata Iriawan.
Dalam pelaksanaannya, Pertamina menggandeng PT Patra Jasa, PT Pertamina International Shipping (PIS), pemerintah daerah setempat, serta masyarakat pesisir untuk memastikan keberlanjutan program.