BALI — Telkom Enterprise saat ini mengantongi pendapatan sekitar Rp 19 triliun. Angka tersebut masih menunjukkan pertumbuhan negatif, namun potensi lompatan bisnis dinilai sangat besar.
“Revenue saat ini Rp 19 triliun, growth memang masih minus. Tapi kalau dibangun dengan benar, kita yakin bisa tembus pertumbuhan 25 sampai 30 persen,” ujar Veranita Yosephine dalam pertemuan tersebut.
Ia menambahkan, Indonesia sebagai negara dengan populasi dan GDP terbesar keempat di dunia seharusnya mampu melahirkan pemain global. “Global player saja bisa, masa negara kita tidak bisa?” tegasnya.
Transformasi Bukan Sekadar Rebranding, Tapi Integrasi
Dalam pertemuan itu, Dony Oskaria menekankan bahwa Telkom Enterprise harus berperan sebagai integrator utama yang menyatukan seluruh kapabilitas bisnis Telkom. Ia menilai selama ini masing-masing lini usaha masih berjalan sendiri-sendiri.
“Kita punya banyak bisnis, kalau tidak ada integratornya, mereka jalan sendiri-sendiri. Telkom jadi satu holding enterprise bisnis ini yang perlu, karena ini integratornya,” ujar Dony.
Untuk itu, transformasi akan menyentuh tiga aspek utama: penyempurnaan desain organisasi, penguatan tata kelola, dan pembenahan model akuntansi. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing di tengah meningkatnya kebutuhan solusi digital korporasi.
Arahan Danantara: Rapiin Semua, Masuk Fase Baru
Melalui arahan Danantara, transformasi Telkom Enterprise akan difokuskan pada efektivitas organisasi, pemanfaatan talenta muda di bidang teknologi informasi, serta tata kelola yang lebih ketat. Dony menegaskan momentum ini tidak boleh disia-siakan.
“Mulai membangun organisasi dengan benar. Ini kesempatan kita buat ngerapiin semuanya dan masuk ke fase yang baru,” kata Dony.
Telkom Enterprise diharapkan menjadi fondasi penting dalam memperkuat posisi Telkom sebagai pemimpin penyedia solusi digital nasional. Dengan populasi korporasi yang terus bertransformasi ke layanan digital, potensi pasar masih sangat terbuka lebar. Target menjadi global player bukan lagi sekadar wacana, melainkan peta jalan yang mulai diukur langkah demi langkah.