DENPASAR — Pasar kripto global kembali bergejolak setelah risalah rapat terbaru The Fed mengindikasikan sikap hawkish yang bertahan. Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis menunjukkan para pejabat The Fed masih belum yakin inflasi akan mencapai target 2 persen secara berkelanjutan, sehingga membuka ruang untuk pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Imbasnya, Bitcoin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar langsung tertekan. Para analis menilai sentimen ini membuat investor beralih ke aset aman dan mengurangi eksposur pada instrumen berisiko tinggi seperti mata uang digital.
Risalah FOMC yang dipublikasikan beberapa waktu lalu mengungkap kekhawatiran sejumlah pejabat The Fed terhadap laju inflasi yang masih kaku. Sebagian anggota komite bahkan menegaskan kesiapan mereka untuk menaikkan suku bunga lagi apabila data ekonomi menunjukkan perlunya tindakan tersebut.
Pernyataan ini secara langsung memupus harapan pasar yang sebelumnya optimistis terhadap pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Padahal, ekspektasi penurunan suku bunga menjadi salah satu katalis utama yang mendorong reli harga aset kripto sepanjang 2024.
Suku bunga tinggi secara fundamental menjadi kabar buruk bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih menarik, investor cenderung memilih instrumen yang memberikan kepastian pendapatan dibandingkan aset spekulatif yang volatilitasnya tinggi.
Kondisi likuiditas yang ketat juga mengurangi minat investor institusional untuk masuk ke pasar kripto. Arus dana ke produk seperti Bitcoin exchange-traded fund (ETF) pun dipantau ketat sebagai indikator sentimen pasar.
Pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada rilis data inflasi AS yang dijadwalkan keluar dalam beberapa pekan mendatang. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan akan memperkuat sikap hawkish The Fed dan berpotensi menekan harga Bitcoin lebih dalam.
Sebaliknya, jika data menunjukkan pendinginan inflasi, tekanan jual di pasar kripto bisa mereda. Para trader juga akan mencermati pernyataan pejabat The Fed dalam forum-forum publik untuk mengukur arah kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Untuk saat ini, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan aset kripto. Investor ritel di Indonesia yang aktif bertransaksi di platform lokal pun diimbau untuk mencermati perkembangan ini dan mengelola risiko dengan hati-hati.