BALI — UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar upacara Hari Santri 2026 di Taman Kujang, depan Gedung Anwar Musaddad, dengan seluruh peserta laki-laki mengenakan sarung dan peci. Rektor Prof Rosihon Anwar bertindak sebagai inspektur upacara dan membacakan amanat Menteri Agama RI Nasaruddin Umar. Peringatan tahun ini mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas".
Sebanyak peserta upacara terdiri dari mahasiswa, dosen, dan civitas academica kampus yang hadir dengan busana khas pesantren. Peserta perempuan tampil mengenakan baju muslimah, sementara peserta laki-laki kompak bersarung dan berpeci. Atribut tersebut bukan sekadar seragam, melainkan penanda identitas santri yang melekat pada tradisi pesantren.
Makna di Balik Pakaian Peserta
Pemilihan sarung, peci, dan busana muslimah dalam upacara Hari Santri di kampus merujuk pada tradisi yang tumbuh di lingkungan pesantren. Pakaian itu dipakai sehari-hari para santri saat mengaji, menghadiri pengajian, hingga kegiatan keagamaan lain.
Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tradisi tersebut dibawa ke ruang upacara resmi. Kesan formal tetap terjaga, tapi identitas keislaman dan kedaerahan justru lebih menonjol dibanding upacara kenegaraan biasa.
Yel-yel Santri Meriahkan Amanat
Suasana upacara tidak berjalan kaku. Sebelum menyampaikan amanat, inspektur upacara mengajak seluruh peserta menyuarakan yel-yel khas pesantren. Peserta diminta menjawab seruan "Yuk mondok" dengan "Mondok itu keren", lalu "Yuk nyantri" dijawab "Nyantri itu asyik".
Seruan lain juga menggema: "Siapa kita?" dijawab "Santri Indonesia", dan "Santri Indonesia" disambut "Unggul, mandiri, mendunia". Yel-yel ini jadi pembuka sebelum pembacaan amanat Menteri Agama RI.
Sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri untuk mengenang Resolusi Jihad yang dimaklumatkan Hadratussyekh Kiai Haji Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi itu membangkitkan semangat umat Islam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semangat perlawanan tersebut memuncak dalam peristiwa 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Pesan yang diwariskan: santri bukan hanya penjaga nilai agama, tetapi juga bagian dari perjalanan bangsa.
Peran Santri Menuju Indonesia Emas 2045
Tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas" menekankan tanggung jawab santri terhadap masa depan bangsa. Jika dahulu santri berjuang mempertahankan kemerdekaan, kini perjuangan itu berlanjut lewat ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan akhlak mulia.
Pada 2045, Indonesia akan genap berusia 100 tahun. Visi Indonesia Emas menuntut sumber daya manusia unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berakhlak mulia, serta mampu menghadirkan inovasi. Santri diminta tidak merasa kecil dan tidak membatasi diri.
Prof Rosihon dalam amanatnya menegaskan santri bisa menjadi apa saja, mulai dari ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pemimpin bangsa. Syaratnya terus belajar, bersungguh-sungguh, dan mengabdikan ilmu bagi kemajuan Indonesia.
Pesan untuk Santri di Seluruh Indonesia
Pesantren dinilai memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter bangsa. Di sana ilmu diajarkan, akhlak dibentuk, kemandirian ditumbuhkan, dan pengabdian ditanamkan. Kekuatan inilah yang harus terus dirawat agar pesantren semakin berperan menjawab tantangan zaman.
Para santri diajak memegang prinsip man jadda wajada, barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. Tradisi pesantren perlu dipelihara, tetapi santri juga diminta tidak takut terhadap perubahan.
Upacara di Taman Kujang menjadi pengingat tahunan bahwa peringatan Hari Santri bukan sekadar seremonial. Nilainya terletak pada pengabdian, karya, dan kontribusi nyata santri bagi Indonesia.