BALI — Harry Redknapp menilai Premier League kehilangan tradisi mencetak pemain muda dari akademi klub sendiri. Mantan manajer West Ham United itu menyoroti minimnya lulusan akademi yang menembus tim utama, dengan 73 persen menit bermain musim ini diisi pemain asing.
Redknapp menyampaikan kritik tersebut dalam wawancara dengan jurnalis Henry Winter dari kediamannya di Poole, Dorset. Ia menyinggung sejumlah klub besar yang menurutnya tak lagi menjadikan akademi sebagai jalur utama pemain muda ke tim utama.
West Ham Jadi Contoh Klub yang Dulu Produktif Cetak Pemain
Redknapp mengenang masa kepemimpinannya di West Ham pada 1994. Saat itu ia berambisi menghasilkan pemain dari akademi, dan sejumlah nama besar lahir dari proses tersebut: Rio Ferdinand, Frank Lampard, Michael Carrick, Jermain Defoe, Glen Johnson, hingga Joe Cole.
Menurutnya, tradisi itu kini memudar. "Klub dulu seperti ban berjalan pemain binaan sendiri. Sekarang tidak lagi," ujar Redknapp.
Ia menyoroti Tottenham Hotspur yang dinilainya tak punya satu pun pemain lulusan akademi di tim utama. Chelsea dan Liverpool juga disebut tak lagi mengandalkan produk sendiri, meski beberapa nama seperti Levi Colwill dan Reece James sempat muncul dari akademi.
Manajer Diminta Lebih Peduli pada Pemain Muda
Redknapp menilai persoalan utama ada pada sikap manajer. Banyak pelatih di Premier League, katanya, tak pernah menonton latihan atau pertandingan tim muda karena merasa tak akan bertahan lama di klub.
"Mereka berpikir, untuk apa peduli pada anak 15 tahun? Saya kan tidak akan di sini lima tahun lagi," tuturnya menirukan pola pikir manajer masa kini.
Ia membandingkan dengan era Ron Greenwood di West Ham dan Bill Nicholson di Tottenham yang rutin memantau tim muda. Menurut Redknapp, perhatian manajer adalah kunci agar pemain muda tidak kehilangan arah saat menginjak usia 19 atau 20 tahun.
Kontrak Besar Bikin Pemain Muda Kehilangan Dorongan
Redknapp juga menyoroti fenomena kontrak besar bagi pemain belia. Ia menyebut ada remaja 17 tahun yang menerima 40.000 hingga 50.000 poundsterling per pekan meski belum meraih apa pun.
"Mereka dapat kontrak lima tahun, uang gila-gilaan, dan merasa sudah aman," katanya.
Solusi yang ia usulkan adalah kuota pemain binaan sendiri di setiap tim. Redknapp mengakui usulan itu berisiko sekadar formalitas, tetapi ia berharap ada dua pemain akademi yang benar-benar tampil di lapangan setiap pertandingan.
Dukungan untuk Lampard dan Carrick
Dalam wawancara itu, Redknapp juga membahas karier kepelatihan keponakannya, Frank Lampard, di Coventry City. Ia berharap Lampard mampu membawa Coventry bertahan di Premier League setelah promosi musim lalu.
"Dia tidak perlu bekerja, itu pasti. Tapi dia mencintai sepak bola dan ingin sukses sebagai manajer seperti saat jadi pemain," ujar Redknapp.
Ia juga mendukung Michael Carrick yang tengah mendapat tekanan di Manchester United. Menurut Redknapp, Carrick punya determinasi kuat meski karakternya lebih tenang dibanding Lampard.
Redknapp menilai skuad Manchester United saat ini tak cukup kuat bersaing merebut gelar. Ia setuju dengan kritik Lisandro Martinez soal rekrutmen pemain, namun menyesalkan karena kritik itu disampaikan ke publik.
Harapan untuk Pelatih Lokal di Timnas Inggris
Redknapp berharap Inggris kembali memakai pelatih lokal setelah masa Thomas Tuchel berakhir. Lampard dan Eddie Howe disebutnya sebagai kandidat yang layak.
Ia menilai pelatih Inggris jarang mendapat kesempatan di klub besar. "Mereka masuk ke tim yang sedang kesulitan, lalu sulit meraih sukses," katanya.
Redknapp sendiri hampir menangani Inggris pada 2012 setelah Fabio Capello mundur. Saat itu ia disebut-sebut sebagai kandidat terkuat, tetapi posisi akhirnya jatuh ke tangan Roy Hodgson.