BALI — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (22/10/2026), setelah penguatan 0,94% ke 5.328,36 pada sesi sebelumnya masih dibayangi aksi jual bersih investor asing sekitar Rp528 miliar. Ketidakpastian rencana reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI menjadi risiko utama yang menahan kepercayaan investor dan arus modal asing.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman memperkirakan IHSG bergerak sideways dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini. Pelaku pasar, menurut Fanny, masih mencermati perkembangan sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan indeks.
Pada perdagangan Rabu (21/10/2026), IHSG ditutup menguat 0,94% ke level 5.328,36, naik 49,47 poin dari penutupan sebelumnya. Penguatan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan karena masih dibayangi net sell investor asing sekitar Rp528 miliar.
Penguatan IHSG Belum Konfirmasi Pembalikan Tren
Head of Department BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani menilai penguatan IHSG kemarin merupakan upaya pemulihan setelah tekanan jual ekstrem pada pekan sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut belum mengonfirmasi pembalikan tren.
Chory menyebut ketidakpastian terkait rencana reklasifikasi Indonesia oleh MSCI masih menjadi risiko bagi kepercayaan investor dan arus modal asing. Status reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global tersebut menjadi faktor yang menentukan arah masuknya dana asing ke bursa domestik.
Net Sell Rp528 Miliar Jadi Sinyal Tekanan Asing
Angka net sell sekitar Rp528 miliar pada sesi Rabu menunjukkan investor asing masih memilih mengurangi eksposur di tengah ketidakpastian. Arus keluar dana asing menjadi indikator yang perlu dicermati pelaku pasar karena berkaitan langsung dengan likuiditas dan valuasi saham-saham berkapitalisasi besar.
Bagi investor ritel, kondisi ini menuntut kehati-hatian dalam mengambil posisi. Pergerakan sideways cenderung melemah biasanya ditandai volatilitas terbatas dengan kecenderungan harga menurun perlahan, sehingga strategi trading jangka pendek menghadapi risiko yang lebih tinggi.
Bursa Asia Menguat, Ditopang Optimisme AI
Dari eksternal, bursa Asia bergerak beragam dengan mayoritas menguat pada perdagangan Rabu. Penguatan tersebut ditopang optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sentimen positif dari bursa regional belum tentu menular ke IHSG. Tekanan dari rencana reklasifikasi MSCI dan aksi jual asing menjadi faktor domestik yang membatasi ruang penguatan indeks dalam jangka pendek.
Yang Perlu Dicermati Investor Hari Ini
- Perkembangan informasi seputar rencana reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI
- Arah arus dana asing, apakah net sell berlanjut atau berbalik menjadi net buy
- Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penentu arah indeks
- Sentimen bursa Asia, khususnya terkait optimisme sektor AI
Fanny dan Chory sama-sama menekankan bahwa sentimen global dan domestik masih menjadi penentu utama pergerakan IHSG. Tanpa kepastian soal status MSCI, ruang penguatan indeks diperkirakan tetap terbatas dan rentan terhadap tekanan jual lanjutan.