BALI — Rancangan insentif pajak film federal Amerika Serikat sebesar 20 persen, yang bisa membengkak jadi 30 persen dengan bonus, menjadi topik hangat di Zurich Summit akhir pekan lalu. Para eksekutif pembiayaan film menilai kebijakan ini bakal mengubah peta produksi global, meski eksekusinya masih butuh waktu tiga sampai empat tahun. Sejumlah nama besar industri hadir memberi pandangan, dari mantan petinggi WME Independent hingga CAA Media Finance.
Zurich Summit menjadi panggung diskusi soal prospek insentif film federal pertama di Amerika Serikat. Deadline mewawancarai sejumlah financier film soal peluang kebijakan yang selama bertahun-tahun diminta industri Negeri Paman Sam itu.
Angin segar datang pekan lalu ketika sekelompok anggota parlemen bipartisan mengajukan rancangan undang-undang insentif 20 persen. Dengan tambahan bonus, total rebate bisa menyentuh 30 persen.
Isi Rancangan dan Target Mulai 2027
Draf yang diajukan menyebut kredit pajak berlaku untuk produksi film dan televisi yang memenuhi syarat mulai tahun pajak setelah 31 Desember 2026. Artinya, proyek yang mulai berjalan pada 2027 jadi sasaran utama.
Meski begitu, belum ada tanggal pasti kapan kebijakan ini mulai berlaku. Proses legislasi di AS bisa memakan waktu bertahun-tahun sebelum rancangan resmi disahkan.
Respons Eksekutif: Positif tapi Butuh Waktu
Alex Walton, mantan Co-Lead & Partner di WME Independent, menyebut langkah ini sebagai perkembangan yang sangat positif. Menurutnya, absennya kredit pajak efisien di AS selama ini terasa janggal.
"It's wild to think there hasn't been an efficient tax credit in America. It has helped many other countries. Spain is booming because of it now; and all over Europe. It's going to take some time to be realized and for financial institutions to be able to cash flow it. But you've got to believe it will happen within the next three-four years, and then that will see all the foreign tax credits compete harder to maintain their positions," ujar Walton.
Andrea Scarso, Managing Partner di IPR.VC yang terlibat dalam Marty Supreme dan Materialists, setuju bahwa insentif AS akan berdampak positif. Ia tetap memberi catatan soal potensi kenaikan biaya produksi.
"It remains to be seen whether the prices and budgets are also going up by the same amount, which is something that happens in some foreign territories when they increase the amount of tax credit or soft money. It's always a balance. But overall, I think it's good news," kata Scarso.
Dampak ke Lapangan Kerja dan Produksi
Sarah Schweitzman, Co-Head CAA Media Finance, menyoroti aspek ketenagakerjaan. Menurutnya, banyak film internasional diproduksi di luar AS semata-mata karena skema insentif pajak.
"What's important is that when you look at some of the international markets, you realize that we're making movies there because of a tax incentive situation and I think if we're able to federalize a tax incentive program in the U.S. it's going to create many more jobs and invigorate crews, which is something we absolutely need in the U.S.," ujarnya.
Klaim itu diperkuat studi terbaru Motion Picture Association. Studi tersebut memperkirakan kredit pajak film federal bisa menambah belanja produksi AS hingga 125 miliar dolar dan menciptakan lebih dari 143.000 lapangan kerja pada 2035.
Negara bagian dan negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan insentif serupa kini menghadapi tekanan baru. Jika AS benar-benar menerapkan kredit pajak federal, mereka harus bersaing lebih keras mempertahankan posisi sebagai lokasi produksi favorit.
Bagi industri film global, wacana ini menandai pergeseran arah: dari produksi yang berbondong-bondong ke luar AS, menjadi upaya menarik kembali proyek ke dalam negeri. Waktunya belum pasti, tapi arahnya mulai terlihat.