Pencarian

Joged Pingitan Kembali Hidup di Catus Pata Singapadu Gianyar, Warga Saksikan Ritual Sakral Penolak Bala

Minggu, 02 Agustus 2026 • 10:56:31 WIB
Joged Pingitan Kembali Hidup di Catus Pata Singapadu Gianyar, Warga Saksikan Ritual Sakral Penolak Bala
Warga menyaksikan ritual sakral Joged Pingitan di Catus Pata Singapadu, Gianyar, Kamis (23/7/2026) malam.

GIANYAR — Cahaya obor menggantikan lampu listrik di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Sukawati, Gianyar, Kamis (23/7/2026) malam. Asap dupa mengepul tipis, gamelan bebatelan mengalun pelan, dan tembang klasik menggema di antara rumah warga. Ratusan orang berdiri mengitari perempatan, menunggu sesuatu yang telah lama hilang untuk kembali pulang.

Suasana berubah ketika iring-iringan warga datang dari arah timur menuju pelinggih di depan Bale Tempekan Selat. Sejumlah gadis berbaju adat duduk bersila di atas aspal, sebagian lainnya merebahkan tubuh. Seorang pemangku memimpin persembahyangan, lalu gelungan Joged Pingitan dipasangkan kepada salah seorang gadis. Sejak saat itu, gerak tari lahir bukan sebagai pertunjukan semata, melainkan peristiwa spiritual yang menghubungkan manusia dengan leluhurnya.

Bukan Sekadar Tari, Melainkan Warisan Sakral Penolak Bala

Bagi warga Tempekan Selat, Joged Pingitan bukan tarian biasa. Kesenian ini menyimpan nilai magis yang membedakannya dari joged pada umumnya. Gelungan yang dikenakan penari bersama lampu sentir menjadi simbol ikatan spiritual sekaligus penanda konservasi tradisi. Di baliknya tersimpan keyakinan turun-temurun bahwa tarian ini berfungsi sebagai penolak bala.

Selama bertahun-tahun, kesenian ini nyaris tak pernah dipentaskan. I Wayan Sutirtha, pencipta karya yang juga mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, mengaku gelisah melihat kondisi tersebut.

"Karya ini lahir dari kegelisahan saya melihat kesenian Joged Pingitan yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum para bendesa yang sekarang lahir. Namun, hingga kini masyarakat masih mencintai warisan leluhur tersebut. Karena itu, kesenian ini perlu dihidupkan kembali sekaligus menyiapkan regenerasi agar tetap lestari," ujar Sutirtha.

Seluruh Catus Pata Menjadi Panggung Bersama

Tidak ada batas antara penari dan penonton dalam pertunjukan ini. Para penari muncul dari tengah kerumunan, membuat warga yang semula hanya berdiri otomatis menjadi bagian dari ruang pertunjukan. Pendekatan koreografi lingkungan yang dipilih Sutirtha mengubah seluruh perempatan menjadi panggung bersama.

Sekitar 100 seniman terlibat, mulai dari penari hingga penabuh gamelan bebatelan yang memainkan suling, tambur, gandrangan, gong, dan kendang. Ruang pertunjukan dipenuhi bunyi-bunyian yang memperkuat suasana sakral.

Konsep pertunjukan bertumpu pada tiga unsur utama: Sanghyang Memedi, Sanghyang Dedari, dan Hyang Bhatari. Ketiganya menjadi landasan merumuskan kembali nilai-nilai sakral dan mitis Joged Pingitan dalam bentuk yang tetap berpijak pada tradisi, namun mampu berdialog dengan masyarakat masa kini.

Metode Solah Bhuwana: Lima Tahap Menghidupkan Tradisi

Dalam proses kreatifnya, Sutirtha mengembangkan metode Solah Bhuwana yang terdiri atas lima tahapan. Nyeraya sebagai proses penelitian, Ngelaca untuk mengolah gagasan menjadi gerak, Matetegar sebagai ruang eksperimen, Ngwahya untuk menyusun bentuk pertunjukan, dan Nureksa sebagai tahap evaluasi.

"Dari hasil penelitian yang saya lakukan, revitalisasi tersebut diwujudkan melalui penciptaan karya Pertunjukan Angker Pancer Joged Pingitan Cipta Solah Bhuwana Tiga Hyang dengan pendekatan koreografi lingkungan," ungkapnya.

Rektor ISI Bali: Catus Pata Ruang Sosial yang Hidup Kembali

Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana, menilai pemilihan catus pata sebagai ruang pertunjukan bukan kebetulan. Perempatan merupakan ruang sosial tempat masyarakat membangun hubungan, berbagi nilai, sekaligus belajar tentang keteraturan hidup.

"Catus pata adalah ruang sosial untuk berbagi. Di sanalah manusia belajar membangun keteraturan, meski dalam praktiknya kerap diwarnai berbagai dinamika kehidupan. Melalui karya ini, seniman berhasil menghadirkan kembali esensi catus pata sebagai ruang interaksi, ruang berpikir, dan ruang untuk membangun ketertiban sosial," ujarnya.

Di penghujung malam, anak-anak yang semula maplayanan di sudut jalan ikut larut dalam suasana. Pertunjukan ini bukan sekadar menghidupkan kembali tradisi lama, tetapi juga menanamkan ingatan kolektif kepada generasi baru bahwa Joged Pingitan adalah bagian dari denyut nadi desa yang tak boleh hilang.

Follow denpasar24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tatkala.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks