DENPASAR — Pameran seni rupa Mulasara digelar di Puri Agung Pemecutan, Denpasar, Jumat (18/6/2026). Kegiatan ini diinisiasi Putri Indonesia Lingkungan 2026 yang juga Miss International Indonesia 2026, Victoria Titisari Kosasieputri, bersama komunitas seni Kultara.id.
Pemilihan Puri Pemecutan sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Victoria menyebut pertemuan antara nuansa tradisional dan modern ingin dihadirkan lewat ruang bersejarah tersebut. Kultara.id sendiri sudah dua tahun terakhir rutin menggelar workshop seni di puri itu.
"Pihak keluarga besar Puri juga sangat terbuka terhadap gagasan ini," kata perempuan yang akrab disapa Vicky itu.
Apa Makna Mulasara dan Mengapa Isunya Relevan untuk Bali?
Victoria menjelaskan, Mulasara berarti kembali ke akar atau esensi. Lewat tema itu, ia ingin mendorong generasi muda lebih peduli terhadap ekosistem dan lingkungan di sekitarnya.
"Mulasara berarti kembali ke akar atau esensi. Ini agar generasi muda lebih peduli pada eksositem dan lingkungan mereka sendiri," ujarnya.
Isu yang diangkat para seniman menyasar kondisi Bali yang sering disebut mengalami overdevelopment dan overtourism. Lima seniman muda kontemporer dilibatkan untuk merespons persoalan tersebut melalui medium masing-masing.
Lima Seniman dan Medium yang Dipakai
Kelima seniman itu adalah Madra Durga, Made Arsana, Satya Buana, Ganesh Harsad, dan Agus Mardika. Setiap karya menawarkan pendekatan berbeda terhadap tema lingkungan dan identitas.
- Madra Durga memakai tubuh dan tanah liat sebagai medium, penonton diajak terlibat dengan menempelkan tanah liat pada tubuhnya.
- I Kadek Agus Mardika melalui fotografi mengamati perubahan praktik pembuatan banten, khususnya pergeseran dari bahan alami ke bahan sintetis dan instan.
- Satya Bhuana mengangkat tema kamulan, berbicara tentang asal-usul kelahiran, kekosongan, dan ingatan lewat bentuk organik dan bunyi.
- Made Arsana lewat medium patung mempertanyakan perubahan yang terjadi pada tradisi atas nama modernitas dan identitas.
- Ganesh Harsad menggunakan lukisan untuk merefleksikan kembali relasi manusia dengan lanskap kehidupan yang diwarisinya.
Pengalaman Victoria di London dan Pertanyaan soal Seni Tradisi
Sebelum terjun ke proyek ini, Victoria sempat bekerja di London, Inggris, dalam pengelolaan museum dan seni kontemporer. Pengalaman itu menumbuhkan tekadnya untuk lebih memahami dunia seni Indonesia, khususnya seni Bali.
Ia sempat mempertanyakan apakah seni tradisi dan seni kontemporer bisa hidup berdampingan, saling memperkuat, bahkan saling mengangkat. Setelah berdiskusi dengan kalangan seniman dan budayawan, Victoria menyimpulkan hal itu sangat mungkin dilakukan.
Sebagai Miss International Indonesia 2026, Victoria melihat Mulasara sebagai bagian perjalanan membawa cerita Indonesia ke panggung internasional. Proses dan cerita pameran ini akan dipresentasikannya di Miss International 2026 di Tokyo, Jepang, pada November 2026.
Dukungan Puri Pemecutan untuk Aktivitas Seni dan Budaya
Pangelisir Puri Agung Pemecutan AA Ngurah Ketut Parwa menyatakan pihaknya antusias mendukung acara ini. Menurutnya, puri ingin dibuka kembali sebagai pusat aktivitas seni dan budaya.
"Kami ingin membuka kembali Puri ini sebagai pusat aktivitas seni dan budaya," tegasnya.
Parwa menilai tema Mulasara sejalan dengan ajaran leluhur Bali agar setiap orang mau melakukan Mulat Sarira atau memahami jati diri sendiri. Nilai-nilai luhur itu, katanya, akan tetap terjaga dalam menjalani kehidupan yang terus berlanjut.
"Berkreasilah sepuas-puasnya, karena Anda merupakan potensi-potensi besar untuk kami ke masa depan," pesannya.