Pencarian

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.068/USD, Konflik AS-Iran dan Inflasi AS Jadi Pemicu

Kamis, 16 Juli 2026 • 10:35:31 WIB
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.068/USD, Konflik AS-Iran dan Inflasi AS Jadi Pemicu
Rupiah ditutup menguat 0,13 persen ke level Rp18.068 per USD pada perdagangan Rabu (15/7).

BALI — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,13 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.091 per USD. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatatkan rupiah di level Rp18.064 per USD, naik 35 poin.

Eskalasi Perang di Timur Tengah dan Dampaknya ke Rupiah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan sentimen utama yang mendorong penguatan rupiah adalah keputusan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap semua pelabuhan Iran. Langkah ini dibalas Teheran dengan serangan drone ke posisi AS di pangkalan Azraq, Yordania, serta menargetkan fasilitas di Bahrain dan Kuwait.

“Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah permusuhan pekan lalu. Ini memperburuk gencatan senjata yang sudah rapuh sejak Juni,” jelas Ibrahim dalam analisis hariannya, Rabu (15/7).

Ketegangan di kawasan tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, yang secara historis mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS. Namun, kali ini rupiah justru perkasa.

Inflasi AS Melandai, Taruhan Suku Bunga The Fed Turun Drastis

Dari dalam negeri AS, data Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni yang dirilis lebih rendah dari ekspektasi menjadi angin segar bagi mata uang emerging market. IHK AS tercatat turun dari 4,2 persen (year on year/yoy) menjadi 3,5 persen (yoy), di bawah perkiraan perlambatan sebesar 3,8 persen.

Inflasi inti juga ikut melandai dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen, di bawah estimasi 2,8 persen. Alhasil, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Juli ambles drastis dari 40 persen menjadi hanya 16 persen, berdasarkan CME FedWatch Tool. Peluang kenaikan suku bunga pada September juga turun ke 60 persen dari sebelumnya 74 persen.

“Data ini mengindikasikan bahwa kebijakan moneter agresif The Fed saat ini belum diperlukan, sehingga tekanan terhadap rupiah berkurang,” tambah Ibrahim.

Utang Pemerintah Diproyeksikan Tembus Rp10.600 Triliun

Di tengah penguatan kurs, pemerintah dihadapkan pada tantangan pembiayaan yang kian berat. Ibrahim mencatat, pelebaran defisit APBN 2026 mendorong kebutuhan penarikan utang baru secara bruto diperkirakan mencapai sekitar Rp1.768 triliun.

Dalam outlook APBN 2026, defisit diproyeksikan melebar menjadi Rp734,32 triliun, dengan pembiayaan utang neto mencapai Rp868,12 triliun. Pemerintah juga harus membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun tahun ini.

Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Mei 2026 tercatat sebesar USD444,4 miliar, tumbuh 2,1 persen (yoy). Dengan tambahan pembiayaan utang neto dan dampak pelemahan kurs, posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai sekitar Rp10.600 triliun, naik dari posisi akhir 2025 yang sebesar Rp9.638 triliun.

Meski demikian, BI menilai pertumbuhan ULN tersebut masih dalam kondisi terkendali, terutama didorong oleh masuknya dana investor ke Surat Berharga Negara.

Bagikan
Sumber: metrotvnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks