Pencarian

Rupiah Tembus Rp17.609 per Dolar AS Pagi Ini, Menkeu Purbaya Aktifkan Bond Stabilization Fund untuk Jaga Imbal Hasil

Jumat, 15 Mei 2026 • 15:48:01 WIB
Rupiah Tembus Rp17.609 per Dolar AS Pagi Ini, Menkeu Purbaya Aktifkan Bond Stabilization Fund untuk Jaga Imbal Hasil
Rupiah melemah ke posisi Rp17.609 per dolar AS pada perdagangan pagi ini.

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka di zona merah pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan data pasar Investing.com pukul 09.11 WIB, mata uang Garuda terdepresiasi 111,5 poin ke posisi Rp17.609 per dolar AS. Pelemahan ini menambah tekanan bagi perekonomian domestik yang masih dibayangi kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah.

Mengapa Dolar AS Kembali Menguat?

Penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh data inflasi dan penjualan ritel yang dirilis pekan ini. Para pelaku pasar meningkatkan taruhan mereka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) akhir tahun ini. Menurut alat CME FedWatch, ekspektasi kenaikan suku bunga hampir sepenuhnya menggantikan prospek penurunan suku bunga yang sempat diantisipasi sebelumnya.

Selain faktor domestik AS, kunjungan Presiden Donald Trump ke Tiongkok turut menjadi sorotan. Pelaku pasar berharap ada terobosan dalam isu perdagangan, kecerdasan buatan, hingga ketegangan terkait Iran. Kondisi ini mendorong Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,26 persen ke posisi 98,987, menandakan dolar AS tengah perkasa terhadap sejumlah mata uang global, termasuk rupiah.

Langkah Pemerintah: Intervensi Pasar Obligasi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pihaknya telah menyiapkan intervensi di pasar obligasi sebagai respons atas pelemahan rupiah. Instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) akan diaktifkan untuk menahan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) agar tidak melonjak terlalu tinggi.

"Gunakan Bond Stabilization Fund, tapi belum fund semuanya kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini. Besok mulai jalan," ucap Purbaya, dikutip dari pernyataannya pada Kamis (14/5).

Meski rupiah terdepresiasi, Menkeu meyakini keuangan negara tetap aman. Pemerintah telah menghitung simulasi efek kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah ke dalam APBN hingga akhir tahun. Purbaya tetap menyerahkan solusi penanganan utama nilai tukar kepada Bank Indonesia sebagai pengampu tugas stabilitas moneter. Kemenkeu hanya akan membantu secara bertahap melalui pasar SBN mulai 13 Mei 2026.

Apa Dampak Pelemahan Rupiah bagi Warga?

Pelemahan rupiah di level Rp17.600-an per dolar AS berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor, termasuk bahan baku industri, elektronik, dan produk konsumen lainnya. Harga bahan bakar minyak (BBM) juga terpengaruh mengingat harga minyak dunia yang masih tinggi akibat konflik Timur Tengah. Warga perlu mencermati potensi kenaikan harga kebutuhan pokok dalam beberapa pekan ke depan.

Pemerintah mengklaim telah mengantisipasi dampak ini melalui mekanisme APBN. Namun, daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah tetap perlu diwaspadai jika tekanan nilai tukar berlanjut dalam jangka panjang.

Kapan Intervensi BSF Mulai Berdampak?

Instrumen Bond Stabilization Fund mulai diaktifkan pada 13 Mei 2026. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas imbal hasil obligasi pemerintah sehingga tidak memicu kepanikan di pasar keuangan. Jika yield SBN terkendali, investor asing diharapkan tetap bertahan dan tidak melakukan aksi jual besar-besaran yang bisa memperburuk nilai tukar rupiah.

Bagikan
Sumber: metrotvnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks