BULELENG — Pengawasan terhadap data pemilih di Buleleng menemukan celah yang harus segera ditutup. Bawaslu setempat mengidentifikasi sejumlah anomali dalam PDPB Triwulan I 2026, mulai dari pemilih ganda hingga warga yang sudah meninggal masih tercatat sebagai pemilih tetap.
Ketua Bawaslu Buleleng, Kadek Candra Wiratama, menyatakan temuan ini merupakan hasil pemantauan langsung di lapangan. Pihaknya memastikan data yang bermasalah itu sudah dikomunikasikan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Buleleng untuk ditindaklanjuti.
Apa Saja Temuan Bawaslu di Data Pemilih?
Selain data ganda dan pemilih meninggal, Bawaslu juga menemukan pemilih yang tidak lagi berdomisili di alamat yang terdaftar. Beberapa di antaranya sudah pindah ke luar kecamatan atau bahkan luar kabupaten, namun namanya belum dicoret dari daftar pemilih di Buleleng.
"Kami temukan pemilih yang sudah meninggal dunia sejak tahun lalu masih tercatat. Ada juga data pemilih ganda antar desa. Ini harus segera diperbaiki karena menyangkut hak pilih warga," ujar Kadek Candra Wiratama dalam keterangannya, Selasa (18/2).
Bawaslu Minta KPU Buleleng Lakukan Verifikasi Faktual
Bawaslu mendorong KPU Buleleng untuk tidak hanya mengandalkan data administrasi. Verifikasi faktual ke lapangan dinilai krusial untuk memastikan setiap pemilih benar-benar memenuhi syarat dan berdomisili sesuai alamat yang tercatat.
Temuan ini menjadi perhatian serius karena kesalahan data pemilih berpotensi menimbulkan sengketa di kemudian hari. Bawaslu meminta perbaikan dilakukan secara bertahap dan transparan, terutama menjelang tahapan Pilkada 2026 yang semakin dekat.
Jadwal Perbaikan Data Pemilih di Buleleng
Proses perbaikan data pemilih berkelanjutan ini akan berlangsung hingga akhir triwulan pertama 2026. Bawaslu akan terus mengawal setiap tahapan agar tidak ada lagi warga yang kehilangan hak pilihnya akibat kesalahan administrasi.
Kadek menambahkan, pihaknya juga membuka posko pengaduan bagi masyarakat yang merasa datanya tidak sesuai. "Kami ingin memastikan tidak ada warga Buleleng yang tercecer hak pilihnya hanya karena data tidak akurat," pungkasnya.