BADUNG — Program pengabdian masyarakat yang digagas mahasiswa PPH A Angkatan 2022 ini berlangsung selama dua pekan terakhir. Mereka menyasar puluhan pelaku UMKM di desa yang dikenal dengan kerajinan anyaman bambu dan olahan pangan lokal tersebut.
Empat Pilar Digitalisasi yang Dikenalkan
Mahasiswa tidak sekadar memberikan teori. Mereka mendampingi langsung pemilik usaha untuk mengelola akun media sosial, membuat katalog produk di marketplace, hingga menyusun konten promosi berbasis cerita budaya lokal.
Selain itu, program ini juga mencakup pengelolaan aset digital berbasis cloud. Para pelaku UMKM diajarkan cara menyimpan data produk, catatan keuangan, dan portofolio usaha secara digital agar lebih rapi dan mudah diakses kapan saja.
Mengapa Budaya Lokal Jadi Kunci?
Desa Tegaljadi memiliki kekayaan tradisi yang belum banyak terekspos ke pasar yang lebih luas. Mahasiswa melihat potensi itu sebagai nilai jual yang bisa membedakan produk UMKM desa dari produk massal.
“Kami bantu mereka meramu kemasan dan narasi promosi yang mengangkat cerita di balik produk. Misalnya, anyaman bambu bukan sekadar keranjang, tapi ada filosofi gotong royong di baliknya,” ujar Koordinator Program, I Wayan Adi Suarjana, saat ditemui di lokasi kegiatan.
Dari Warung ke Website: Transformasi Pemasaran
Salah satu pelaku UMKM, Ni Ketut Sari, pemilik usaha olahan kacang koro, mengaku selama ini hanya mengandalkan penjualan dari warung ke warung. Setelah didampingi, ia mulai menerima pesanan melalui WhatsApp Business dan Instagram.
“Saya baru tahu kalau foto produk yang bagus bisa bikin orang tertarik beli dari jauh. Sekarang pesanan mulai masuk dari luar desa,” kata Ni Ketut.
Fakta Singkat Program PPH A Angkatan 2022 di Desa Tegaljadi
- Target dampingan: 25 UMKM aktif di sektor kerajinan dan kuliner.
- Platform digital yang dioptimalkan: Instagram, Facebook, Shopee, dan website desa.
- Fokus utama: Branding produk dengan sentuhan budaya lokal Bali.
Program ini dijadwalkan berlanjut dengan pendampingan jarak jauh selama tiga bulan ke depan. Pihak desa berharap inisiatif mahasiswa Poltekpar Bali bisa menjadi model pengembangan UMKM berbasis digital di desa-desa lain di Kabupaten Badung.