Pencarian

Alex Edelman Sebut Kennedy Center Kini Tak Ramah Buat Komedian

Sabtu, 31 Oktober 2026 • 21:17:31 WIB
Alex Edelman Sebut Kennedy Center Kini Tak Ramah Buat Komedian
Komedian peraih Emmy Alex Edelman menyatakan Kennedy Center kini sulit menjadi panggung bagi pelawak yang tidak sejalan dengan politik Donald Trump.

BALI — Komedian peraih Emmy, Alex Edelman, menyatakan bahwa Kennedy Center kini sulit dijadikan panggung bagi para pelawak yang tidak sejalan dengan politik Donald Trump. Lewat kolom tamu di The New York Times, Edelman menilai kebijakan pengelolaan venue ikonik Washington D.C. itu telah mengubah wajah dunia komedi Amerika Serikat.

Alex Edelman, komedian dan aktor yang memenangi Emmy lewat spesial HBO/Max Just For Us pada 2024, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi Kennedy Center saat ini. Ia menuangkan pandangan tersebut dalam kolom tamu berjudul "I Loved Performing at the Kennedy Center. I May Never Do It Again" yang dimuat The New York Times.

Menurut Edelman, suasana di institusi seni tersebut sudah berubah drastis sejak Donald Trump mengambil alih pengelolaan pada 2025. Perubahan itu membuat banyak pelaku seni, terutama komedian, mempertimbangkan ulang rencana tampil di sana.

Panggung yang Kini Terasa Tidak Netral

Edelman menyebut bahwa tampil di Kennedy Center sekarang hanya masuk akal bagi mereka yang secara terbuka mendukung Trump. Ia menghitung hanya tiga komedian utama yang manggung di venue itu sepanjang tahun, dan semuanya pernah menyatakan dukungan kepada mantan presiden tersebut.

"For me and the performers I know, it doesn't make sense to play the venue now unless you're avowedly and solidly Trump-supporting," tulis Edelman dalam kolomnya.

Ia mengenang pengalaman pribadinya tampil di Eisenhower Theater pada 2024 lewat pertunjukan tunggal Just Like Us. Orang tuanya datang jauh-jauh dari Boston untuk menonton. Kini, kenangan itu terasa seperti perpisahan.

"That might have been my last time performing there," lanjutnya.

Dampak Takeover Trump terhadap Finansial dan Program

Sejak Trump menguasai kursi kepengurusan dan menyingkirkan anggota dewan yang ditunjuk pendahulunya, Kennedy Center mengalami penurunan penjualan tiket. Sejumlah artis membatalkan pertunjukan, sementara pertunjukan besar berakhir pada Juli lalu.

Edelman menyoroti rencana penutupan sebagian besar gedung utama dengan alasan renovasi mahal. Menurutnya, Trump hanya akan menyetujui renovasi jika bangunan tersebut kelak menyandang namanya. Ia menilai langkah itu tidak masuk akal karena Kennedy Center berstatus monumen nasional, bukan hotel atau perusahaan komersial.

Ironi lain yang ia angkat: pada tahun terakhir pemerintahan Biden, program Kennedy Center justru mencatat surplus 40 juta dolar AS. Angka itu jauh berbeda dengan kondisi keuangan yang disebut-sebut terpuruk sekarang.

Ragam Program yang Dulu Jadi Kekuatan

Sebagai penonton, Edelman mengaku terkesan dengan keberagaman program Kennedy Center beberapa tahun terakhir. Balet, komedi, musik country, opera, hip-hop, hingga teater avant-garde pernah memeriahkan panggung tersebut.

Ia mengakui tidak semua pertunjukan sesuai seleranya. Namun justru di situlah daya tarik institusi itu: seni untuk kepentingan publik, bukan sekadar tontonan yang menguntungkan.

Dari sisi performer, Edelman menggambarkan pengalaman tampil di Kennedy Center sebagai kesempatan bertemu para pencinta budaya, dari penggemar berat hingga penonton biasa yang penasaran. Kini, kata dia, rekan-rekan sesama komedian dan aktor tak lagi membicarakannya sebagai tempat yang ingin dikunjungi.

Penghargaan Kennedy Center Honors dan Mark Twain Prize pun dinilai telah terpolitisasi sedemikian rupa hingga nyaris kehilangan nilai. Edelman menyampaikan simpati kepada para talenta yang masih tampil di sana dan staf yang berusaha keras menjaga institusi tetap berjalan.

Harapan pada Pemilu Mendatang

Meski kecewa, Edelman belum sepenuhnya menutup pintu. Ia menyinggung adanya pemilu yang akan datang dan pemerintahan yang tidak bertahan selamanya.

Ia berharap suatu hari bisa kembali tampil di tepi Sungai Potomac, menghibur penonton yang menganggapnya lucu maupun yang memutuskan ia bukan untuk mereka. Bayangan itu ia gambarkan hangat: orang asing, teman lama, mahasiswa, warga lokal, dan turis duduk dalam gelap sambil tertawa bersama.

Pernyataan Edelman menambah daftar panjang respons komunitas seni Amerika terhadap perubahan arah Kennedy Center. Bagi industri hiburan Tanah Air, kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang pertunjukan publik selalu terkait erat dengan kepentingan politik yang mengelilinginya.

Follow denpasar24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: deadline.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks