BALI — Muhammad Lutfi menantang Pemerintah Singapura menindak tegas perusahaan yang diduga penyebab karhutla RI, bukan sekadar mengirim surat peringatan. Mantan Menteri Perdagangan itu menyoroti empat dari tujuh perusahaan yang ditegur justru berstatus pemasok grup sawit besar yang berkantor pusat di Singapura.
Lutfi menyampaikan kritik itu melalui akun Instagram pribadinya, @m.lutfi, Selasa (20/10). Ia menilai surat peringatan yang disiapkan Singapura hanya langkah simbolis untuk menyenangkan warga negara tersebut.
"Apakah Pemerintah Singapura hanya berani menulis surat untuk menyenangkan pemilih dan donatur mereka," kata Lutfi dalam unggahan tersebut.
Empat dari Tujuh Perusahaan Pemasok Grup Sawit Bursa Singapura
Menurut Lutfi, empat dari tujuh perusahaan penerima surat teguran adalah pemasok bagi grup yang memiliki holding raksasa dan tercatat di bursa saham Singapura. Ia merujuk laporan Greenpeace Oktober 2026 yang menyoroti lima grup sawit besar dengan titik api.
Dua di antaranya, First Resources dan Bumitama Agri, merupakan emiten di bursa Singapura dengan nilai mendekati SG$10 miliar. Kantor pusat kedua grup tersebut berada di Singapura.
"Jangan hanya menulis surat, jangan hanya mengirim peringatan ke Jakarta, geledah kantor mereka di Singapura pakai hukum Singapura," ujar Lutfi.
Model Ekonomi Pajak Ringan Jadi Sorotan
Lutfi menjabarkan bagaimana Singapura membangun ekonominya tanpa lahan luas dan pasar domestik besar. Negara itu menawarkan pajak ringan sekitar 5-15 persen bagi investor yang menempatkan kantor pusat di sana.
Sementara itu, pabrik dan perkebunan ditempatkan di negara tetangga yang biaya operasionalnya lebih murah, termasuk Indonesia. Dalam skema itu, Indonesia hanya menerima dampak lingkungan dan reputasi buruk.
"Indonesia yang kebagian asap, rusak lingkungan dan buruk namanya, sementara Singapura yang mengantongi keuntungannya," kata Lutfi.
Ia menambahkan keluarga-keluarga kaya Singapura makin besar melalui family office, sementara komisi pengelolaan keuangan masuk ke kantong pemerintah negara itu.
Singapura Ancam Tempuh Jalur Hukum
Jumat (16/10), Singapura menyatakan akan mengeluarkan peringatan kepada tujuh perusahaan di Indonesia yang diidentifikasi paling bertanggung jawab atas karhutla. Asap kebakaran dinilai menyebar ke seluruh Asia Tenggara.
Mengutip AFP, perusahaan tersebut antara lain Bumi Andalas Permai, Bumi Mekar Hijau, dan SBA Wood Industries. Sebagian besar merupakan pemasok kayu untuk industri pulp dan kayu di Sumatra.
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura Grace Fu menyatakan investigasi awal menunjukkan sebagian kabut asap di negaranya berasal dari kebakaran di lahan milik tujuh perusahaan tersebut.
"Investigasi kami sejauh ini menunjukkan bahwa sebagian kabut asap yang dialami di Singapura berasal dari kebakaran di lahan milik tujuh perusahaan di Indonesia," ujar Grace Fu.
Isi Surat Peringatan dan Opsi Sanksi
Singapura akan mengirim "preventive notice" yang menginstruksikan perusahaan mengerahkan tim pemadam kebakaran dan menghentikan aktivitas pembakaran. Perusahaan juga diminta menyerahkan rencana aksi kepada National Environment Agency Singapura.
Saat ditanya soal langkah memastikan kepatuhan, Grace Fu menyebut denda atau tuntutan hukum sebagai opsi yang sedang dipertimbangkan.
Bagi pelaku industri sawit dan pulp, tekanan ini menambah risiko reputasi sekaligus biaya kepatuhan lintas yurisdiksi. Emiten yang terhubung ke rantai pasok grup bersangkutan berpotensi menghadapi pertanyaan investor soal tata kelola lingkungan dan jejak pemasok mereka.