MANGUPURA — Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memaparkan materi bertema "Membangun Ekosistem Pariwisata 5.0, Integrasi Infrastruktur, Mobilitas dan Pemerataan Ekonomi Berbasis Nangun Sat Kerthi Loka Bali" pada sesi khusus bertajuk "The Resilience of Indonesia". Forum tahunan unggulan MarkPlus Tourism (MCorp) itu dibuka resmi Gubernur Bali Wayan Koster.
Konsep yang dibawa Adi Arnawa menekankan pergeseran pengelolaan pariwisata dari kuantitas jumlah kunjungan menuju penciptaan nilai pariwisata berkualitas yang berkelanjutan. Badung dinilai perlu memastikan pergerakan wisatawan memberi manfaat ekonomi merata, bukan hanya menumpuk di satu kawasan.
Dua Kategori Penghargaan untuk Badung
Best Regency Destination Award 2026 diberikan untuk kategori Excellence in Accessibility dan Excellence in Attraction. Penghargaan diserahkan langsung kepada Kepala Dinas Pariwisata Badung Anak Agung Putri Mas Agung di hadapan peserta konferensi.
Forum berskala nasional itu dihadiri Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Johanis Asadoma, anggota DPD RI Dapil Sumatera Barat Irman Gusman, serta Founder & Chair of MCORP Hermawan Kartajaya. Sejumlah bupati dan wali kota se-Indonesia, pimpinan asosiasi pariwisata, akademisi, dan praktisi turut hadir.
Mengapa Badung Harus Melirik Wilayah Tengah dan Utara
Adi Arnawa menyebut tantangan pariwisata Badung ke depan bukan sekadar mempertahankan daya tarik dan meningkatkan kunjungan. Persoalan yang lebih mendesak adalah memastikan manfaat ekonomi menyebar hingga wilayah tengah dan utara.
"Tantangan pariwisata Badung ke depan bukan hanya mempertahankan daya tarik dan meningkatkan kunjungan, tetapi memastikan pergerakan wisatawan memberikan manfaat ekonomi merata bagi masyarakat, termasuk di wilayah tengah dan utara," ujar Adi Arnawa.
Selama ini pusat aktivitas wisata Badung memang terkonsentrasi di pesisir selatan. Pola itu membuat desa-desa di wilayah tengah dan utara kurang menikmati dampak kunjungan.
Strategi Beyond the South dan Konektivitas
Untuk mendiversifikasi pengalaman wisata, Pemkab Badung menyiapkan strategi "Beyond the South". Potensi warisan sejarah, desa wisata, budaya, hingga agrowisata akan diintegrasikan melalui penguatan konektivitas infrastruktur.
Sejumlah rencana strategis yang dipaparkan mencakup pengembangan Jalan Lingkar Selatan (JLS) dan jalan pintas Berawa–Umalas–Kedampang–Teuku Umar Barat. Pemkab juga menyiapkan transportasi terpadu berupa trem pesisir, Water Taxi, dan bus pengumpan (feeder).
Jaringan akses itu dirancang untuk mengurai kemacetan sekaligus membuka jalur ekonomi bagi UMKM, sektor pertanian, dan pengelola homestay di desa wisata. Dampaknya diharapkan sampai ke pelaku usaha kecil di luar kawasan pesisir selatan.
Apa Langkah Selanjutnya
Pemkab Badung belum merinci jadwal pelaksanaan masing-masing proyek konektivitas tersebut. Namun arah kebijakan sudah ditegaskan: pariwisata Badung akan diarahkan pada pemerataan manfaat, bukan sekadar pertumbuhan kunjungan.