BALI — Partisipasi Indonesia dalam INDEXPLUS 2026 digelar atas kolaborasi Kementerian Perdagangan melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Chennai, Atase Perdagangan New Delhi, Kedutaan Besar RI di New Delhi, serta Konsulat Jenderal RI Mumbai. Paviliun Indonesia mengusung tema "Indonesian Craftsmanship, Global Design".
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menyebut capaian ini sebagai sinyal kuat bagi pelaku usaha furnitur nasional untuk memperluas pasar ekspor ke India.
"Keikutsertaan Indonesia pada INDEXPLUS 2026 menjadi momentum untuk memperkuat penetrasi produk furnitur kita di pasar India," kata Fajarini dalam keterangan, Sabtu (12/9/2026).
Transaksi Langsung vs Potensi yang Masih Terbuka
Angka USD 151 ribu yang terealisasi di lantai pameran baru sebagian kecil dari total potensi USD 2,26 juta yang tercatat. Artinya, masih ada ruang besar bagi pelaku usaha untuk mengonversi prospek menjadi kontrak riil.
Produk yang ditampilkan di Paviliun Indonesia menggabungkan desain kontemporer, keahlian craftsmanship, material premium, serta kekayaan warisan budaya. Kombinasi ini dinilai relevan dengan selera pasar India yang tengah berubah.
Pergeseran Selera Konsumen Urban India
Fajarini menyoroti perubahan preferensi konsumen di kota-kota besar India. Di Mumbai, Delhi National Capital Region, dan Bengaluru, konsumen mulai meninggalkan furnitur bergaya tradisional.
Mereka beralih ke desain minimalis-modern hingga scandinavian-industrial. Tren ini membuka peluang bagi produsen Indonesia yang mampu menyesuaikan lini produk dengan estetika tersebut.
Kemendag mengajak pelaku usaha furnitur, termasuk UMKM, untuk membaca perubahan tren konsumen India sekaligus meningkatkan ekspor. Segmen UMKM dinilai punya fleksibilitas produksi untuk menggarap pesanan dalam jumlah kecil dengan desain khusus.
Peta Peluang Furnitur Indonesia di Pasar India
India merupakan pasar impor furnitur yang tumbuh seiring ekspansi kelas menengah urban dan pembangunan properti di kota-kota besar. Beberapa faktor yang membuat pasar ini menarik bagi eksportir Indonesia:
- Permintaan desain minimalis-modern dan scandinavian-industrial yang terus naik di kota metropolitan
- Kedekatan geografis dibanding kompetitor Eropa, sehingga biaya logistik lebih kompetitif
- Kekayaan material alami Indonesia seperti kayu jati, rotan, dan kayu keras lain yang sulit ditiru produsen lokal India
- Skema kerja sama ITPC Chennai dan Atase Perdagangan New Delhi yang memfasilitasi penetrasi pasar
Meski begitu, eksportir tetap menghadapi tantangan berupa standar sertifikasi India, persaingan dengan produsen domestik, serta kebutuhan adaptasi desain terhadap selera lokal. Keikutsertaan dalam pameran seperti INDEXPLUS menjadi salah satu cara membangun jaringan dengan buyer dan distributor setempat.
Bagi pelaku usaha, sinyal dari New Delhi ini layak ditindaklanjuti dengan penjajakan kontrak dagang jangka panjang, bukan sekadar mengandalkan transaksi di lantai pameran. Investasi mengandung risiko.