BALI — Pemantauan tumbuh kembang anak tidak bisa menunggu sampai muncul masalah kesehatan. Perhatian harus dimulai dari keluarga, dan Posyandu Satu Hati yang digelar Pemkot Batu ini menjadi pengingat bahwa peran orang tua adalah kunci utama mencegah stunting.
Kenapa Kader Posyandu Perlu Lebih Jeli?
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu meminta seluruh kader posyandu untuk lebih teliti membaca grafik pertumbuhan anak. Bukan sekadar melihat angka timbangan yang naik, tapi memastikan kenaikannya sesuai standar usia.
Banyak orang tua merasa anaknya baik-baik saja karena berat badan bertambah. Padahal, jika kenaikannya tidak mencapai target minimal kelompok umur, itu sudah menjadi lampu kuning menuju stunting.
Penyakit Berulang Bisa Hambat Pertumbuhan Balita
Selain soal asupan gizi, Wali Kota Batu, Nurochman, menyoroti faktor kesehatan yang sering terlewat. Penyakit berulang seperti batuk dan pilek yang muncul akibat cuaca ekstrem belakangan ini ikut memengaruhi tumbuh kembang balita.
Saat anak sakit terus-menerus, energi tubuh lebih banyak dipakai untuk pemulihan daripada pertumbuhan. Akibatnya, berat badan sulit naik meski pola makan sudah diperbaiki.
“Orang tua harus lebih peka terhadap pemicu sakit pada anak, termasuk pola jajan yang tidak sehat. Penyakit berulang membuat berat badan sulit naik meskipun asupan makan sudah ditingkatkan,” jelas Cak Nur, sapaan akrabnya.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Generasi Emas 2045
Pemkot Batu menegaskan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan TP PKK, kader posyandu, penyuluh KB, dunia usaha, hingga masyarakat menjadi kekuatan penting agar program kesehatan benar-benar bermanfaat.
Ketua TP PKK Kota Batu, Siti Faujiyah Nurochman, mengapresiasi para kader yang aktif melayani masyarakat. Menurutnya, anak-anak adalah generasi penerus yang kesehatannya menjadi tanggung jawab bersama.
“Mari terus berkolaborasi agar tidak ada lagi anak yang mengalami stunting,” ujarnya.
Orang Tua Bisa Sampaikan Masukan untuk Program Kesehatan
Pemkot Batu membuka ruang bagi masyarakat, terutama para ibu, untuk menyampaikan saran dan gagasan terkait program kesehatan. Masukan bisa disalurkan melalui pemerintah desa maupun kecamatan.
“Masukan dari masyarakat menjadi umpan balik bagi pemerintah untuk menyusun program yang benar-benar dibutuhkan,” kata Cak Nur.
Melalui langkah ini, target akhirnya bukan hanya menekan prevalensi stunting, tapi juga mendorong terciptanya keluarga yang sehat, mandiri, dan berkualitas demi menyambut Generasi Emas Indonesia 2045.