Pencarian

Candi Tebing Gunung Kawi di Gianyar: Mahakarya Pahatan Batu Abad ke-11 yang Hidup di DAS Pakerisan

Senin, 31 Agustus 2026 • 15:47:32 WIB
Candi Tebing Gunung Kawi di Gianyar: Mahakarya Pahatan Batu Abad ke-11 yang Hidup di DAS Pakerisan
Candi Tebing Gunung Kawi di Gianyar dipahat langsung pada dinding tebing padas di tepi Sungai Pakerisan pada abad ke-11.

GIANYAR — Candi Tebing Gunung Kawi berdiri sebagai bukti kejayaan seni pahat batu pada abad ke-11 di tepi Sungai Pakerisan, Desa Adat Penaka, Kecamatan Tampaksiring. Berbeda dengan candi-candi di Jawa yang tersusun dari batu bata, situs ini langsung dipahat pada dinding tebing padas, menciptakan struktur candi dan ceruk yang menyatu dengan lanskap lembah.

Warisan Dinasti Warmadewa ini telah resmi ditetapkan sebagai struktur cagar budaya melalui Keputusan Bupati Gianyar Nomor 876/E-01/HK/2024. Penetapan tersebut mencakup Kompleks Candi 5, Kompleks Candi 4, serta Kompleks Candi ke-10 yang tersebar di dua sisi aliran sungai.

Berbeda dari Borobudur, Semua Dipahat di Tebing

Keunikan Candi Tebing Gunung Kawi terletak pada metode pembangunannya. Tidak ada susunan batu dari dasar hingga puncak sebagaimana Borobudur atau Prambanan. Para maestro kuno justru memahat tebing secara langsung, menghasilkan jajaran candi dan ceruk yang membentang di hamparan batu padas sepanjang DAS Pakerisan.

Kawasan ini terbagi menjadi dua bagian besar, yakni sisi timur dan barat sungai. Total terdapat tujuh titik kawasan yang masing-masing memiliki fungsi berbeda, mulai dari kompleks candi utama, wihara, ceruk pertapaan, hingga petirtaan.

Tujuh Titik yang Perlu Diketahui Pengunjung

Berdasarkan peta citra foto udara, ketujuh titik tersebut adalah: titik A (Kompleks Candi 5), titik B (Kompleks Candi 4 dan Wihara II), titik C (Asrama Amarawati/Wihara I), titik D (Kompleks Wihara IV dan Pura Melanting), titik E (Ceruk dan Gapura Menuju Candi 10), titik F (Kompleks Candi ke-10 dan Wihara III), serta titik G (Kompleks Wihara V dan Petirtan Yeh Ambengan).

Kompleks Candi 5 di titik A menjadi primadona yang pertama terlihat setelah melewati gerbang batu dan menyeberangi jembatan di atas Sungai Pakerisan. Lima struktur candi ini menghadap ke barat dan berdiri gagah dalam kesunyian lembah. Dua di antaranya memuat inskripsi yang berbunyi "Haji Lumah Ing Jalu" dan "rwa nakira".

Para ahli menafsirkan inskripsi pertama merujuk pada Raja Udayana yang dicandikan di Jalu, sementara inskripsi kedua mengarah pada dua anaknya, yaitu Marakata dan Anak Wungsu. Makna ini memperkuat dugaan bahwa kompleks tersebut dibangun untuk mengenang raja-raja Dinasti Warmadewa.

Ceruk Pertapaan dan Jejak Tradisi Buddha

Tidak jauh dari Kompleks Candi 5, berdiri Wihara Amarawati yang menyimpan deretan ceruk pertapaan. Di dalam gua, cahaya matahari hanya mampu menembus tipis, sementara suara aliran air di luar berubah menjadi musik alam yang menemani langkah pengunjung menyusuri lorong lembab. Ceruk-ceruk ini menjadi bukti adanya tradisi Buddha di tengah kawasan Hindu pada masa lalu.

Keberadaan wihara dan ceruk pertapaan tersebut menambah kekayaan spiritual kawasan ini. Setiap sudut menawarkan nuansa hening yang sulit ditemukan di tempat lain, seolah mengajak pengunjung merenung dan menelusuri kembali jejak peradaban yang pernah berjaya.

Menuruni Anak Tangga Menuju Lorong Waktu

Perjalanan menuju kompleks candi dimulai dari area loket yang dikelilingi hamparan sawah hijau. Pengunjung menelusuri jalan setapak yang kini dipenuhi pedagang cendera mata dan makanan ringan. Semakin dalam menuruni lembah, suasana berubah menjadi lembap dan sejuk, menjauh dari kebisingan kendaraan.

Setelah melewati lorong dan gapura batu yang menyerupai gerbang alami, pengunjung akan disambut jembatan yang memotong Sungai Pakerisan. Dari titik ini, Kompleks Candi 5 tampak gagah di sisi kiri, menjadi awal dari perjalanan menyusuri mahakarya seni pahat yang telah bertahan selama hampir satu milenium.

Follow denpasar24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tatkala.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks