BALI — Bagi gamer Indonesia yang lahir di era 90-an, Eye of the Beholder mungkin terdengar asing. Namun bagi David Brevik, pria di balik franchise Diablo yang mengubah wajah genre Action RPG, game besutan Westwood Studios tahun 1991 ini punya tempat spesial—sekaligus menjadi sumber kekecewaan terbesarnya dalam bermain game.
Dalam wawancara dengan PC Gamer, Brevik yang kini menjabat sebagai Presiden Skystone Games mengaku baru saja memasang ulang game tersebut di PC-nya. Alasannya sederhana: nostalgia dan keinginan menguji kembali ingatannya tentang salah satu game dungeon crawler paling berpengaruh di eranya.
Kenangan Pahit di Dungeon 3D Palsu
Eye of the Beholder hadir di era sebelum Wolfenstein 3D mempopulerkan grafis first-person. Game ini menggunakan ilusi 3D berbasis grid, di mana pemain memandu party petualang melewati lorong-lorong dungeon yang gelap. Brevik mengaku sangat menikmati pengalaman tersebut, bahkan sampai memetakan seluruh level di kertas grafik.
"Saya sangat menyukainya. Grafisnya, imersinya—ini salah satu game terbaik yang pernah saya mainkan pada 1991," ujar Brevik. Namun kekagumannya hancur seketika ketika ia berhasil mengalahkan bos terakhir.
"Saya membunuh bos terakhir, lalu muncul dialog box kecil yang bilang 'Selamat, kamu menang!' atau semacamnya. Setelah itu game langsung keluar ke desktop. Itu ending terburuk dari game mana pun yang pernah saya mainkan. Tapi saya benar-benar menyukai game itu. Luar biasa," kenangnya.
540 Jam di Marvel Heroes Versi Server Penggemar
Selain bernostalgia ke game klasik, Brevik ternyata masih aktif bermain Marvel Heroes—game ARPG yang ia kembangkan saat memimpin Gazillion Entertainment. Game ini resmi ditutup pada 2018 setelah perusahaan bangkrut, namun sekelompok penggemar setia berhasil menghidupkannya kembali lewat server pribadi.
Menurut catatan Steam, Brevik telah menghabiskan 540 jam di Marvel Heroes. Ia mengaku memainkan game tersebut hampir setiap malam sambil streaming bersama komunitas. Karakter favoritnya di versi Omega update adalah The Thing, meski ia juga menikmati Iron Fist, Deadpool, Elektra, dan Thor.
"Setelah saya keluar dari perusahaan, mereka merilis update Omega yang mengubah sistem skill tree menjadi lebih kasual. Banyak karakter berubah. Tapi game ini tetap seru, meski endgame-nya kurang dalam," jelas Brevik.
EverQuest dan Minecraft: Game yang Tak Pernah Dihapus
Brevik mengaku memiliki ribuan jam bermain EverQuest dan World of Warcraft bersama istrinya. Ia bahkan masih memasang EverQuest versi klasik '99 di PC-nya dan sesekali kembali untuk leveling karakter baru. Menurutnya, pengalaman bermain EverQuest sulit dijelaskan kepada generasi yang tidak mengalaminya langsung.
"Ini seperti mencoba menjelaskan Star Wars kepada orang yang tidak pernah menontonnya di bioskop saat pertama tayang. Kami belum pernah melihat sesuatu seperti itu sebelumnya," katanya.
Satu kisah paling traumatisnya terjadi saat raid dragon bersama karakter Necromancer. Brevik mengikat titik respawn-nya di dekat sarang naga, namun setelah mati, ia justru muncul di tengah gerombolan giant yang sudah respawn. "Saya tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya saya cabut kabel internet," tertawanya.
Di sisi lain, Minecraft menjadi game keluarga yang rutin ia mainkan bersama anak dan cucunya. Brevik mengaku paling serius di antara anggota keluarga lain, gemar membangun mesin-mesin rumit dan kontrapsi raksasa untuk server bersama.
Desktop Berantakan dan Prototype yang Tak Pernah Selesai
Sebagai programmer yang masih aktif ngoding setiap hari, Brevik mengaku desktop PC-nya berantakan total. Ada sekitar 300 ikon berserakan—mulai dari shortcut game, tools development, Adobe Creative Suite, hingga catatan feedback untuk berbagai project yang ia tinjau.
Meski sibuk mengurus Skystone Games, Brevik masih menyimpan Visual Studio dan mengerjakan berbagai prototype game setiap hari. "Saya masih bermimpi suatu hari bisa membuat game lagi. Tapi sekarang saya terlalu sibuk untuk fokus mengerjakan satu project," pungkasnya.
Bagi penggemar Diablo dan game-game klasik, wawancara ini menjadi pengingat bahwa bahkan kreator legendaris pun punya pengalaman buruk dengan game favoritnya—dan itu justru membuat kecintaannya pada medium ini semakin nyata.