BALI — Bank pelat merah ini tidak sekadar mengejar pertumbuhan. Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menegaskan bahwa seluruh pembiayaan yang disalurkan ke ekosistem pemerintahan dan BUMN dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. "Bank Mandiri terus berkomitmen mendukung pembiayaan proyek strategis dan pembangunan infrastruktur nasional, termasuk melalui ekosistem pemerintahan dan BUMN," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (11/8).
Kualitas Aset Tetap Terjaga di Tengah Ekspansi
Pertumbuhan kredit dua digit seringkali membuat investor bertanya-tanya soal risiko. Namun, Bank Mandiri membuktikan ekspansi tidak mengorbankan kesehatan neraca. Hingga Juni 2026, rasio kredit bermasalah (NPL) secara bank only tercatat rendah di angka 0,98 persen.
Lebih penting lagi, rasio pencadangan (NPL coverage) mencapai 242 persen. Artinya, bank memiliki bantalan modal yang sangat tebal untuk mengantisipasi potensi gagal bayar di masa mendatang. "Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit Bank Mandiri tetap berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang disiplin," tambah Adhika.
Menimbang Wacana Perpanjangan Kewajiban Proyek
Di tengah agresivitas penyaluran dana, tengah berkembang pembahasan mengenai usulan perpanjangan pembayaran kewajiban sejumlah proyek. Terkait hal ini, Bank Mandiri belum mengambil keputusan sepihak. Korporasi memilih untuk duduk bersama dengan seluruh pemangku kepentingan terlebih dahulu.
Adhika menjelaskan, setiap langkah akan diputuskan berdasarkan hasil asesmen yang komprehensif. Pihaknya tidak akan menerapkan kebijakan yang sama untuk semua debitur, melainkan melihat kondisi masing-masing. "Kami akan melakukan assessment secara komprehensif dan mempertimbangkan setiap langkah berdasarkan kondisi masing-masing debitur serta ketentuan yang berlaku," katanya.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa restrukturisasi—jika memang diperlukan—tidak mengganggu arus kas perusahaan dan tetap menjaga kesehatan fundamental bank.
Motor Penggerak Pembangunan Nasional
Dana sebesar Rp 489 triliun yang mengalir ke ekosistem BUMN bukan sekadar angka di laporan keuangan. Aliran modal ini menjadi darah bagi pembangunan infrastruktur yang dinikmati masyarakat luas, seperti jalan tol, pelabuhan, hingga ketahanan energi nasional.
Ke depan, Bank Mandiri menyatakan optimisme untuk terus mendukung agenda prioritas pemerintah. Fokusnya bukan hanya pada ekspansi bisnis, tetapi juga menjaga keseimbangan agar kontribusi terhadap pembangunan nasional tetap sehat dan berkelanjutan.
Dengan permodalan yang kuat dan manajemen risiko yang disiplin, posisi Bank Mandiri sebagai motor pembiayaan negara tampaknya akan semakin kokoh di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.