BANGLI — Hamparan lava hitam di kawasan Batur Let atau Black Lava, Kintamani, kini menjadi panorama yang memikat wisatawan. Namun, bagi masyarakat Batur, bebatuan beku itu adalah makam sebuah kampung yang pernah hidup dengan segala denyut kehidupannya—rumah, ladang, asap dapur, hingga doa-doa dari pusat spiritual mereka.
Seratus tahun silam, tepatnya Agustus 1926, Gunung Batur memuntahkan lava yang meluluhlantakkan Desa Batur. Bukan hanya permukiman yang hilang, tetapi juga Pura Ulun Danu Batur, situs suci yang menjadi poros kehidupan masyarakat.
Rarud Bukan Sekadar Mengungsi, Melainkan Menyelamatkan Peradaban
Dalam bahasa setempat, rarud berarti berpindah atau mengungsi. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar perpindahan manusia. Rarud adalah pengalaman kolektif ketika sebuah komunitas kehilangan ruang hidup, tetapi menolak kehilangan jati diri.
“Bagi kami, peringatan seratus tahun Rarud Batur bukan sekadar mengenang letusan gunung. Ini adalah momentum untuk mengingat kembali perjalanan leluhur,” ujar Jro Penyarikan Duuran Batur, I Ketut Eriadi Ariana, saat menjadi narasumber Podcast Case Closed pada 17 Juli 2026.
Eriadi menjelaskan, dari rangkaian letusan sejak awal 1900-an, erupsi 1926 merupakan yang terbesar. Dampaknya memang tidak seluas letusan Gunung Agung pada 1963, tetapi bagi masyarakat Batur, kehilangan itu terasa total.
“Secara lokal memang hanya Desa Batur yang terdampak. Tetapi yang hilang adalah situs penting, yakni Pura Ulun Danu Batur,” katanya.
Ketika Pilihan Sulit Dijawab dengan Menyelamatkan Keduanya
Saat lava mulai mendekati desa, warga dihadapkan pada dilema: menyelamatkan diri atau mempertahankan pusat kehidupan mereka. Jawabannya mencerminkan watak kebudayaan Bali—keduanya diselamatkan.
Manusia dievakuasi, sementara arca-arca penting, pratima, hingga rangka Jro Agung dari Pura Ulun Danu Batur berhasil dibawa keluar sebelum seluruh kawasan tertutup lava. Proses evakuasi benda-benda suci itu bahkan mendapat bantuan pemerintah kolonial Belanda, termasuk kontrolir Klungkung dan residen Belanda yang mengerahkan narapidana untuk mengangkut benda-benda sakral menuju tempat aman.
Mengapa Ingatan Kolektif Ini Harus Terus Dijaga?
Bagi masyarakat Batur, hamparan batu hitam itu bukan sekadar objek wisata. Di balik permukaan yang membeku, tersimpan jejak kampung yang pernah hidup—rumah-rumah yang pernah berdiri, suara anak-anak yang pernah bermain, dan ladang yang pernah digarap setiap musim.
Momentum peringatan ini menjadi cara menjaga ingatan kolektif sekaligus regenerasi kesadaran bagi generasi muda. Bukan hanya melalui cerita para tetua, tetapi juga lewat ritual, tradisi, dan upaya mendokumentasikan kembali sejarah yang nyaris hilang ditelan waktu.
Ukuran sebuah bencana tidak selalu ditentukan oleh luas wilayah yang terdampak. Kadang, satu tempat kecil memiliki arti yang begitu besar bagi identitas sebuah masyarakat. Batur adalah buktinya—seratus tahun setelah lava membeku, ingatan itu tak tenggelam.