BALI — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peta terbaru musim kemarau 2026 yang menunjukkan Agustus menjadi bulan dengan cakupan wilayah terdampak terluas. Data yang diumumkan Rabu (29/7/2026) mencatat 48,48 persen Zona Musim (ZOM) Indonesia akan mengalami puncak kemarau pada bulan tersebut, meliputi Sumatera bagian tengah, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi.
El Nino Sangat Kuat, Curah Hujan Hilang hingga Oktober
BMKG mengonfirmasi bahwa El Nino yang terpantau pada pertengahan Juli 2026 telah mencapai level sangat kuat. Intensitasnya diperkirakan akan terus menekan curah hujan di sebagian besar wilayah tanah air hingga Oktober 2026. Kondisi ini membuat musim kemarau tahun ini diprediksi jauh lebih kering dibandingkan kondisi normal tahunan.
"Kami terus melakukan komunikasi, koordinasi, dan pendampingan kepada pemerintah daerah, Forkopimda, BPBD, serta berbagai pihak yang membutuhkan informasi iklim secara lebih rinci," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam unggahan resmi Instagram @infobmkg, Rabu (29/7/2026). Pernyataan itu menekankan pentingnya langkah mitigasi dan adaptasi yang harus dilakukan sejak dini.
September: 169 Zona Masih Kering, Waspada Karhutla dan ISPA
Puncak kemarau tidak berhenti di Agustus. Pada September 2026, sebanyak 169 ZOM atau 25,41 persen wilayah Indonesia masih akan berada dalam masa puncak kekeringan. Wilayah yang terdampak meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, hingga Papua Pegunungan bagian tengah.
BMKG mengingatkan bahwa kombinasi cuaca panas dan kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah bergambut. Di sisi lain, penurunan kualitas udara akibat polusi dan debu berpotensi memicu penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah daerah.
Petani dan Pengelola Bendungan Diminta Siaga
Untuk sektor pertanian, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan. Sementara itu, pengelola pembangkit listrik tenaga air diminta memastikan kapasitas air bendungan tetap mencukupi agar operasional listrik tidak terganggu selama puncak kemarau.
Pemerintah daerah juga didorong mengoptimalkan seluruh sumber air bersih sebagai cadangan serta memperkuat patroli pencegahan karhutla. BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim terkini melalui kanal resmi lembaga tersebut guna merencanakan aktivitas harian dan langkah mitigasi.