Koster memaparkan enam pilar strategis yang harus dijalankan secara bertahap. Pertama, penambahan modal inti menjadi minimal Rp 6 triliun, sementara modal setor dari pemegang saham terus ditingkatkan dari posisi saat ini Rp 3,6 triliun. Kedua, peningkatan kapasitas kelembagaan mencakup pembangunan gedung baru, penambahan pengurus, dan pengembangan sistem berbasis teknologi digital.
Pilar ketiga adalah rebranding dengan semangat baru yang berlandaskan filosofi kearifan lokal Bali. Keempat, peningkatan kinerja internal dan eksternal, efisiensi operasional, serta produksi laba tinggi yang berdampak optimal bagi pembangunan dan kehidupan masyarakat Bali.
Kredit Sektor Unggulan: UMKM Jadi Prioritas
Pilar kelima mendukung pengembangan ekonomi Kerthi Bali, yakni memberikan fasilitas kredit untuk enam sektor unggulan: pertanian dan peternakan, kelautan dan perikanan, industri manufaktur, IKM/UMKM/koperasi, ekonomi kreatif dan digital, serta pariwisata. Adapun pilar keenam menjadikan Bank BPD Bali sebagai kebanggaan masyarakat Bali dengan mengimplementasikan kearifan lokal sad kerthi.
"Menumbuhkan satu kesadaran kolektif, membangun kekuatan kolektif sehingga mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan pihak lain di luar Bank BPD Bali menjadi salah satu sistem yang dimiliki untuk mengepakkan sayap secara seimbang dan bersinergi," ujar Koster dalam arahannya.
Kinerja Keuangan: Aset Tumbuh 8,19%, UMKM Bali Lampaui Nasional
Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, melaporkan per Mei 2026 aset bank tumbuh 8,19 persen dengan nominal Rp 43,117 triliun. Yang menonjol, pertumbuhan UMKM Bali mencapai 11 persen—jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 1 persen.
Dengan tema "Harmoni Bertumbuh Menjaga Stabilitas", Sudharma menegaskan komitmen pihaknya untuk selalu mendukung pembangunan Bali ke depan. Bank yang memiliki 17 kantor cabang (termasuk di Mataram) dan 38 kantor cabang pembantu ini diharapkan menjadi mitra kolaboratif dalam mewujudkan Bali Dwipa Jaya.