BALI — Melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Pemkot Bontang menawarkan konsep boutique resort terapung yang memadukan hunian di atas laut dengan fasilitas bertaraf internasional. Proyek ini merupakan bagian dari upaya hilirisasi sektor pariwisata daerah yang selama ini bergantung pada industri pengolahan sebagai mesin ekonomi utama.
Kawasan Bontang Kuala: Ikon Wisata Pesisir yang Sudah Teruji
Lokasi proyek berada di kawasan Bontang Kuala, yang telah lama dikenal sebagai salah satu ikon wisata pesisir paling terkenal di Kalimantan Timur. Daya tarik utamanya adalah deretan bangunan yang seluruhnya berdiri di atas laut, dilengkapi jalur pejalan kaki dari kayu ulin yang membentang eksotis.
Dengan status sebagai kawasan penyangga IKN, Pemkot Bontang tidak ingin melulu bertumpu pada sektor industri. “Villa Bontang Kuala” dirancang sebagai penginapan eksklusif yang diharapkan mampu menjadi magnet wisata baru bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
Strategi Investasi Baru di Tengah Perpindahan Ibu Kota
Penawaran proyek ini kepada investor nasional menandai pergeseran strategi pembangunan di Bontang. Selama ini, perekonomian kota tersebut sangat bergantung pada sektor industri pengolahan, terutama dari perusahaan tambang dan energi. Kini, Pemkot mulai mendorong investasi berbasis pengalaman dan daya tarik kawasan.
“Langkah berani diambil Pemerintah Kota Bontang dalam memperkuat hilirisasi sektor pariwisata daerah,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari DPMPTSP Bontang. Proyek ini diyakini akan menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di luar sektor industri.
Prospek dan Tantangan Pembangunan di Atas Laut
Pembangunan villa terapung di atas laut memiliki tantangan tersendiri, mulai dari aspek konstruksi, kelestarian lingkungan, hingga regulasi tata ruang wilayah pesisir. Namun, Pemkot Bontang menilai potensi ekonominya jauh lebih besar, terutama dengan geliat pembangunan IKN yang mulai menarik banyak pekerja dan investor ke Kalimantan Timur.
Belum ada angka pasti mengenai nilai investasi yang dibutuhkan maupun target waktu penyelesaian proyek. Pemkot masih membuka peluang bagi investor yang berminat untuk menggarap kawasan tersebut. Kejelasan mengenai skema kerja sama, insentif fiskal, dan kepastian hukum akan menjadi faktor penentu bagi minat investor.