BALI — Mikel Arteta akhirnya mengakhiri puasa panjang. Arsenal resmi menjadi juara Premier League musim 2025/26 setelah Manchester City gagal memanfaatkan peluang memperkecil jarak di papan atas. City hanya mampu bermain imbang 1-1 saat bertandang ke Vitality Stadium, Bournemouth, yang sekaligus memastikan gelar ke-14 bagi Arsenal — terbanyak ketiga dalam sejarah sepak bola Inggris.
Kepastian itu datang sehari setelah Arsenal menekuk Burnley 1-0 di Emirates Stadium, Senin (17/5) malam. Gol tunggal Kai Havertz sudah cukup untuk memberi tekanan maksimal kepada City. Namun, pasukan Pep Guardiola yang akan ditinggalkan sang pelatih pada akhir musim ini justru kehilangan konsentrasi di momen krusial.
Gol Telat Haaland Tak Cukup Selamatkan City
Bournemouth unggul lebih dulu lewat aksi Eli Junior Kroupi. Pemain muda itu mencetak gol yang membawa The Cherries lolos ke kompetisi Eropa musim depan. City baru bisa menyamakan skor melalui Erling Haaland di masa injury time, tapi itu terlambat untuk memperpanjang persaingan gelar.
"Selamat untuk Arsenal, tapi bagi City, kami berharap lebih. Saat semuanya ada di tangan mereka, mereka gagal menyelesaikannya," ujar mantan bek City, Micah Richards. "Ini hari yang buruk. Jatuh seperti ini — kalah dari Everton, imbang lawan Bournemouth — kami seharusnya bisa lebih baik."
Perjalanan Panjang dari 'The Invincibles' ke Era Arteta
Ini adalah trofi Premier League pertama Arsenal sejak era Arsene Wenger. Wenger membawa tiga gelar, termasuk musim 2003/04 yang legendaris saat Arsenal menyelesaikan 38 pertandingan tanpa kekalahan dan dijuluki 'The Invincibles'.
Namun, jalan kembali ke puncak tidak mudah. Butuh tujuh musim penuh bagi Arteta untuk membangun ulang skuad. Musim lalu Arsenal finis sebagai runner-up tiga kali beruntun. Kini, kerja keras itu terbayar lunas.
Keyakinan Declan Rice: Kami Tahu Bisa Menang
Perjalanan Arsenal nyaris terganggu setelah kalah dari City di Etihad Stadium bulan lalu. Tapi sejak saat itu, The Gunners memenangkan empat pertandingan beruntun tanpa kebobolan satu gol pun. Declan Rice menjadi salah satu motor permainan yang menjaga mentalitas tim tetap kuat.
"Kami tahu dari dalam diri sendiri bahwa kami masih percaya dan bisa memenangkannya," kata Rice. "Tapi ini emosional. Melihat dari mana klub ini berasal dalam 10 tahun terakhir — naik turunnya. Saya tidak ada di sini sebelumnya, tapi saya tahu, saya dengar. Menjadi bagian dari apa yang terjadi sekarang sangat istimewa."
Double Impian: Final Liga Champions Menanti
Arsenal masih berpeluang mencatat sejarah ganda. Pekan depan, mereka akan menghadapi Paris Saint-Germain di final Liga Champions di Budapest. Jika menang, itu akan menjadi gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub dan musim yang sempurna bagi Arteta.
Pada laga terakhir Premier League, Arsenal akan bertandang ke Crystal Palace sebagai juara. Tidak ada tekanan — hanya pesta yang sudah 22 tahun dinantikan.