BADUNG — Praktisi hipnoterapi sekaligus dosen Amerta Bhakti, I Made Sumerta, mengatakan membaca buku tentang penyembuhan diri atau hipnoterapi bisa menjadi pintu masuk bagi seseorang yang enggan bertemu langsung dengan psikolog atau terapis. Menurutnya, satu buku bacaan ibarat proses berguru yang memberikan sudut pandang baru dan solusi cepat sesuai dengan masalah yang dihadapi.
Remaja dan Pekerja Dewasa Paling Rentan Alami Kecemasan
Sumerta mencatat tren gangguan kecemasan di Bali saat ini paling banyak ditemukan pada dua kelompok usia: remaja sekolah dan pekerja dewasa. Pemicu utamanya adalah tekanan ekonomi. Di balik gemerlap pariwisata, ia menyebut banyak masyarakat Bali berpenghasilan standar bahkan di bawah upah minimum regional (UMR), sementara kebutuhan terus meningkat.
"Bahkan tak jarang orang Bali memutuskan mengakhiri hidup, hingga menjadi salah satu daerah dengan kasus bunuh diri tertinggi di Indonesia," kata Sumerta di sela konferensi pers Pameran Buku Internasional Big Bad Wolf (BBW) 2026 di Badung, Jumat.
Pameran Buku Internasional Digelar Lebih Lama untuk Dorong Literasi Lokal
Country Director BBW Indonesia Marthinus Wandi Budianto mengatakan, untuk merespons kondisi tersebut, pihaknya membawa jutaan buku ke Bali, termasuk kategori pengembangan diri dan pikiran. Pameran buku internasional terbesar itu akan digelar lebih panjang dari biasanya, yakni 25 Mei hingga 7 Juni 2026 di Discovery Mall Bali, dengan harga buku mulai Rp5.000.
Wandi mengakui hasil evaluasi tahun lalu menunjukkan lebih banyak warga asing yang membeli buku dibanding warga lokal Bali. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk mendorong literasi di daerah pariwisata yang akrab dengan bahasa asing tersebut.
"Salah satu hasil evaluasi kami tahun lalu ternyata lebih banyak yang beli itu orang asing daripada warga lokal Bali-nya. Ini yang jadi salah satu tantangan bagaimana bisa mendorong warga lokal," ujarnya.
Buku Anak Jadi Target Utama Ciptakan Pembaca Baru
Selain buku pengembangan diri, BBW 2026 juga mendatangkan banyak buku anak. Wandi menargetkan pembaca-pembaca baru di usia dini agar membaca menjadi gaya hidup sejak masa emas pertumbuhan. Kategori buku yang dibawa ke setiap kota berbeda, disesuaikan dengan riset kebutuhan masyarakat setempat.
"Memang secara kategori masih lebih banyak kategori anak karena yang kami targetkan justru pembaca-pembaca baru di usia kecil dan buat membaca itu jadi gaya hidup sejak usia emas," tutur Wandi. Area pameran seluas 2.500 meter persegi disiapkan untuk menampung jutaan judul buku fiksi dan non-fiksi.
Meditasi Lewat Bacaan sebagai Langkah Awal
Sumerta menambahkan, literasi melalui buku-buku bacaan bisa dimulai dari hal sederhana seperti buku panduan meditasi. Pemberian hipnoterapi tetap penting untuk merelaksasi pikiran secara profesional, namun membaca buku disebut sebagai langkah awal yang bisa dilakukan siapa saja tanpa harus keluar biaya besar atau mengatasi rasa malu untuk berkonsultasi.