BALI — Peresmian pabrik yang menelan investasi US$ 3,6 miliar atau sekitar Rp 57,6 triliun ini menandai babak baru operasional Tesla Semi di Amerika Serikat. Fasilitas seluas 1,7 juta kaki persegi tersebut dibangun berdampingan dengan Gigafactory Nevada di Sparks, memanfaatkan integrasi vertikal untuk produksi baterai dan komponen utama dalam satu lokasi.
Tesla memproduksi dua varian Semi yang sudah dikunci spesifikasinya. Varian Standard Range menawarkan jarak tempuh 325 mil, sementara Long Range diklaim mampu menempuh 500 mil dalam sekali pengisian daya.
Kedua varian menggunakan penggerak tiga motor bertenaga listrik 800-kW yang menghasilkan lebih dari 1.000 tenaga kuda. Sistem pengisian cepat Megacharger disebut mampu memulihkan sekitar 70 persen kapasitas baterai dalam waktu 30 menit.
Menariknya, peresmian ini bersifat seremonial karena lini produksi berkecepatan tinggi telah beroperasi dan mengirimkan unit ke pelanggan sejak April 2026 sebagai bagian dari program uji coba. Direktur Program Tesla, Dan Priestley, mengonfirmasi bahwa produksi "kini sedang dalam tahap peningkatan" setelah peluncuran lini produksi tersebut.
Perusahaan mulai merekrut tenaga kerja untuk peningkatan produksi sejak awal 2025, menandakan keseriusan Tesla dalam mengejar target kapasitas tahunan yang ambisius tersebut.
Kapasitas 50.000 unit per tahun merupakan angka maksimal, bukan target produksi aktual. Analis memperkirakan Tesla akan mengirimkan antara 5.000 hingga 15.000 unit Semi sepanjang 2026 seiring proses peningkatan skala produksi. Angka tersebut masih jauh dari kapasitas pabrik yang terpasang.
Jadwal peresmian ini berdekatan dengan rencana ekspansi Semi ke pasar Eropa pada ajang IAA bulan depan. Dua momen tersebut seolah menegaskan bahwa program truk listrik yang pertama kali diumumkan pada 2017 ini akhirnya memasuki fase produksi nyata, setelah sempat tertunda bertahun-tahun dari target awal produksi 2019.
Kompetitor Tesla di segmen truk listrik kelas 8 belum menunjukkan kapasitas produksi sebanding. Jika Tesla mampu merealisasikan produksi 15.000 hingga 30.000 unit pada 2027, perusahaan berpotensi menjadi produsen truk listrik terbesar di Amerika Utara.
Dari sisi ekonomi kepemilikan, biaya operasional truk listrik diproyeksikan akan jauh lebih rendah dibanding truk diesel dalam beberapa tahun ke depan. Tekanan harga dari Tesla juga berpotensi memaksa pemain tradisional menyesuaikan strategi atau kehilangan pangsa pasar.
Data dari program uji coba yang melibatkan pelanggan nyata seperti PepsiCo akan menjadi kunci untuk membuktikan klaim total cost of ownership Tesla Semi yang disebut-sebut mampu mengganggu dominasi truk konvensional.