BALI — Kesibukan orang tua, terutama ibu, kerap membuat waktu bermain bersama anak menjadi terbatas. Padahal, di balik aktivitas bermain, tersimpan potensi besar untuk mengasah kemampuan komunikasi, interaksi sosial, dan pengendalian emosi anak. Sebuah kegiatan edukasi yang digelar di lingkungan PCNU Muslimat Malaysia baru-baru ini mencoba menjawab tantangan tersebut dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian keluarga.
Kegiatan yang dilaksanakan oleh tim Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya bersama mitra PCNU Muslimat Malaysia ini menekankan bahwa bermain adalah bagian tak terpisahkan dari proses tumbuh kembang anak. Melalui bermain, anak belajar mengikuti aturan, berkomunikasi, mengenali emosi, dan berinteraksi dengan orang lain. Aktivitas ini juga membantu anak mengembangkan berbagai kemampuan sesuai dengan tahap usianya.
Para ibu yang menjadi peserta mendapatkan edukasi tentang cara menyediakan waktu bermain yang berkualitas. Mereka juga diajarkan untuk memilih permainan yang sesuai dengan usia anak serta membangun interaksi positif selama bermain. Materi ini menjadi penting, terutama di tengah maraknya penggunaan gawai pada anak yang membuat interaksi langsung dengan orang tua semakin berkurang.
Salah satu bagian utama dari kegiatan ini adalah penggunaan permainan ular tangga edukatif. Permainan non-digital yang sederhana ini dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang bisa dimainkan bersama. Anak-anak diajak untuk mengikuti aturan main, menunggu giliran, dan berkomunikasi dengan teman maupun orang dewasa.
Bagi para ibu, permainan ini menjadi contoh nyata bahwa stimulasi perkembangan anak bisa dilakukan dengan media yang murah dan mudah diterapkan di rumah. Pendekatan ini menjadi alternatif kegiatan yang menarik di tengah meningkatnya aktivitas pasif anak di depan layar gawai.
Berdasarkan evaluasi yang melibatkan 16 peserta, kegiatan ini menunjukkan hasil yang positif. Sebelum mengikuti edukasi, proporsi jawaban benar pada pre-test tercatat sebesar 50 persen. Setelah mendapatkan materi, angka tersebut meningkat menjadi 87,5 persen. Hasil deskriptif ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai pentingnya pendampingan orang tua dalam aktivitas bermain anak.
Diskusi selama kegiatan juga mengungkap kebutuhan praktis para ibu, terutama tentang cara menyediakan waktu bermain di sela kesibukan bekerja dan mengurus rumah. Edukasi pun diarahkan pada strategi yang realistis dan bisa diterapkan dalam rutinitas keluarga sehari-hari.
Bagi komunitas Indonesia di Malaysia, kegiatan semacam ini memiliki nilai penting ganda. Selain dari sisi pendidikan anak, kegiatan ini juga memperkuat jejaring sosial antar ibu. Ruang bertukar pengalaman mengenai pengasuhan terbuka lebar, dan para ibu bisa memperoleh contoh praktik stimulasi yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah.
Program ini diharapkan dapat terus dikembangkan melalui pemanfaatan permainan edukatif dalam kegiatan PAUD maupun komunitas. Keberlanjutannya bisa didorong dengan mengajak ibu untuk memainkan kembali ular tangga edukatif bersama anak di rumah, serta mengembangkan permainan sederhana lain yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Mendampingi anak bermain adalah bagian penting dari pengasuhan. Waktu bermain bersama tidak harus mahal atau menggunakan teknologi canggih. Dengan keterlibatan orang tua, permainan sederhana pun bisa menjadi ruang belajar, membangun kedekatan, dan mendukung perkembangan anak secara optimal.