Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memfasilitasi 45 pelaku UMKM binaan untuk memasarkan produk wastra dan kerajinan secara daring melalui pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI). Langkah ini diambil untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat jejaring bisnis pelaku usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sebanyak 18 UMKM lainnya juga diterbangkan mengikuti koneksi bisnis langsung dengan konsumen dan investor potensial di Jakarta.
DENPASAR — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menggandeng puluhan pelaku UMKM binaannya untuk menembus pasar yang lebih luas melalui ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI). Partisipasi ini tidak hanya membuka akses pasar baru, tetapi juga menjadi ajang pembuktian daya saing produk lokal di kancah nasional.
Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwani, menyatakan bahwa keterlibatan dalam pameran ini merupakan langkah strategis untuk mendorong pengembangan UMKM yang berkelanjutan dan berbasis kekayaan budaya Nusantara. "Partisipasi itu semakin memperluas akses pasar dan memperkuat jejaring bisnis," ujarnya di Denpasar, Sabtu.
Dalam pameran yang berlangsung hingga Minggu (23/8) di Jakarta ini, BI Bali memberangkatkan 18 UMKM binaan untuk mengikuti sesi koneksi bisnis secara langsung. Mereka bertemu dengan konsumen dan investor potensial yang membutuhkan produk-produk berkualitas ekspor.
Di sisi lain, 45 pelaku UMKM lainnya memanfaatkan platform digital dengan berpameran melalui laman resmi KKI. Produk yang ditampilkan beragam, mulai dari wastra, perhiasan, aksesoris, hingga produk desa wisata dan makanan-minuman olahan yang dijual melalui sistem toko ritel.
Seluruh pelaku UMKM yang terlibat merupakan usaha yang sudah memiliki orientasi ekspor atau setidaknya memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional. Achris menekankan bahwa perluasan akses pasar ini menjadi penting di tengah perlambatan ekonomi global.
"Mereka diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan menjaga konsistensi produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar," imbuhnya. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga geliat ekonomi daerah di tengah tantangan global, termasuk dampak krisis geopolitik di Timur Tengah.
Upaya penguatan UMKM ini beriringan dengan kinerja ekonomi Bali yang solid. Berdasarkan data terbaru, perekonomian Bali pada triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,78 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,58 persen. Angka ini juga lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,29 persen.
Kendati tumbuh positif, inflasi tetap menjadi perhatian. Pada Juni 2026, inflasi Bali tercatat sebesar 3,27 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen. Namun, angka tersebut dinilai masih perlu diwaspadai agar tidak melewati batas atas target pemerintah yang berada di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
Melalui partisipasi di KKI, BI Bali berharap UMKM binaan dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas jaringan pemasaran baik di dalam maupun luar negeri.