BULELENG — Bunga teratai ungu yang selama ini dikenal sebagai tanaman air khas Bali kini diabadikan menjadi motif anyaman benang tenun. Peluncuran Endek Tunjung Ungu menandai babak baru dalam upaya pelestarian wastra lokal yang dikemas dengan sentuhan desain kontemporer.
Prosesi peluncuran berlangsung simbolis. Ny. Wardhany Sutjidra didampingi Ketua Gatriwara Ny. Luh Parmiti Arya dan Ketua DWP Ny. Dewi Suyasa memulai acara dengan pemintalan benang. Momen dilanjutkan dengan pengalungan syal endek tunjung ungu kepada Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, dan Sekda Buleleng Gede Suyasa.
Endek tunjung ungu merupakan hasil kolaborasi Dekranasda dengan para perajin dan desainer Buleleng. Keindahan bunga teratai ungu dituangkan ke dalam motif tenun endek yang tampil lebih modern, elegan, dan penuh karakter.
Ratusan masyarakat yang hadir di Panggung Utama Buleleng Festival disuguhkan berbagai rancangan busana karya kreatif desainer lokal. Kain tenun khas Buleleng ini diharapkan mampu bersaing di pasar fashion nasional maupun internasional.
Ny. Wardhany Sutjidra menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen Dekranasda untuk terus mendorong pelestarian dan pengembangan wastra lokal, khususnya tenun endek motif tunjung ungu.
"Khususnya tenun endek motif tunjung ungu agar semakin dikenal, dicintai, dan mampu berkembang mengikuti tren fashion masa kini," ungkapnya di hadapan tamu undangan dan masyarakat.
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam karya-karya busana yang ditampilkan. Motif baru ini menambah lagi koleksi kain tenun khas Buleleng yang sebelumnya telah memiliki beragam varian.
"Semoga kolaborasi ini dapat semakin memperkuat ekosistem industri kreatif di Kabupaten Buleleng," katanya.
Di akhir sambutannya, Ny. Wardhany Sutjidra mengajak seluruh masyarakat untuk terus bangga menggunakan produk dan wastra lokal Buleleng. Menurutnya, mencintai karya lokal berarti turut menjaga warisan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para perajin dan pelaku usaha.
Melalui panggung Buleleng Festival 2026, kain tenun khas Buleleng dibawa semakin dekat dengan masyarakat, generasi muda, wisatawan, dan tentunya kepada dunia fashion. Ajang tahunan ini menjadi etalase strategis untuk mempromosikan kekayaan budaya Kabupaten Buleleng ke khalayak yang lebih luas.