Petani Kopi Kintamani Dapat Tabung Fermentasi Modern, Targetkan Cita Rasa Stabil dan Bebas Gagal Produksi

Penulis: Agus Hermawan  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:31:01 WIB
Petani kopi di Desa Belantih, Kintamani, menerima empat unit tabung fermentasi modern dari tim pengabdian Undiksha dan Unwar.

BANGLI — Kebiasaan lama petani kopi Kintamani yang mengandalkan wadah seadanya dan tebakan visual saat menjemur biji kopi mulai ditinggalkan. Sebanyak dua unit usaha kopi di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, kini diperkuat peralatan modern untuk memastikan kualitas dan konsistensi rasa kopi arabika produksi mereka.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan (PDB) dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dan Universitas Warmadewa (Unwar) menyerahkan teknologi tepat guna yang mencakup empat unit tabung fermentasi khusus serta satu unit alat pengukur kadar air digital. Program ini merupakan bagian dari transformasi manajemen usaha berbasis digital yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek.

Mengapa Petani Kesulitan Menjaga Kualitas Rasa Kopi?

Ketua Tim PDB, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd., menjelaskan bahwa persoalan utama di tingkat hulu dan menengah adalah standar pengendalian mutu yang belum seragam. Akibatnya, cita rasa kopi yang dihasilkan sering kali naik turun dan sulit bersaing di pasar yang menuntut konsistensi.

“Teknologi yang dihadirkan tidak boleh sekadar menjadi pajangan seremonial, tetapi harus benar-benar berdaya guna secara operasional. Kami ingin memastikan petani memiliki alat yang presisi agar setiap gilingan kopi yang dihasilkan memiliki standar mutu yang stabil dan berdaya saing pasar,” kata Lasmawan saat ditemui di Desa Belantih, Bangli, Rabu (19/8/2026).

Tabung Fermentasi 220 Liter untuk Pengelola Belantih Coffee Farm

Pengelola Belantih Coffee Farm, I Wayan Tunas Wijaya, menerima empat unit tabung fermentasi khusus Kegland FermZilla Gen3 Tri-Conical dengan kapasitas total 220 liter. Alat transparan yang dilengkapi fitur dump valve dan sambungan Tri-Clover ini memungkinkan proses fermentasi terpantau secara visual, higienis, dan terukur setiap hari.

Tunas Wijaya mengakui selama ini kelompoknya sering gagal memprediksi suhu dan tingkat keasaman saat fermentasi menggunakan wadah konvensional. “Kadang hasilnya bagus, kadang justru rasa kopinya anjlok karena fermentasi yang tidak terkontrol. Dengan tabung khusus ini, prosesnya jauh lebih bersih dan perkembangannya bisa kami pantau langsung tiap hari,” ungkapnya.

Alat Ukur Digital Gantikan Kebiasaan Lama Petani

Di sisi lain, Kelompok Tani Dharma Kriya menerima satu unit Wile Coffee & Cocoa Moisture Meter dengan rentang ukur 6 hingga 27 persen. Ketua kelompok, I Wayan Selamat, S.E., menyebut alat ini mengubah kebiasaan lama petani yang hanya mengandalkan intuisi, seperti melihat warna atau menggigit biji kopi untuk memastikan kekeringan.

“Dulu kami mengira kopi sudah kering cuma dari warna atau bila digigit. Padahal kalau kadar airnya belum pas 12 persen, kopi rawan berjamur saat disimpan di gudang. Sekarang dengan alat ini, ada kepastian data. Kami tahu persis kapan biji kopi siap dikemas dan dipasarkan,” ujar Selamat.

Seluruh rangkaian penyerahan dan pendampingan teknologi pengolahan pascapanen ini telah terealisasi 100 persen. Dengan adanya peralatan ini, petani kopi Kintamani diharapkan mampu memproduksi green bean dengan kadar air standar 12 persen secara konsisten, sehingga meminimalkan kerugian akibat kopi berjamur dan meningkatkan daya tawar di pasar.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: kabardenpasar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top