BULELENG — Tiga nama penerima penghargaan tersebut adalah Ni Luh Sustiawati, Luh Herawati, dan Ni Luh Menek. Pemberian penghargaan itu menjadi momen istimewa di tengah perhelatan festival yang mengusung tema "Uriping Rasa" dan berlangsung hingga 23 Agustus 2026 ini.
Koster menyebut festival ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan ruang strategis untuk memajukan seni dan budaya Bali, khususnya karya-karya seni asal Buleleng. Menurutnya, perhelatan ini juga menjadi etalase bagi kuliner, kerajinan, hingga produk UMKM khas daerah setempat yang berperan penting menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Di hadapan warga yang hadir, Koster memaparkan sejumlah agenda strategis pembangunan untuk Buleleng. Salah satunya adalah kelanjutan pembangunan shortcut titik 9–10 yang akan diteruskan hingga titik 12.
"Kalau semuanya sudah selesai pada 2029, dari Denpasar ke Buleleng nanti bisa satu setengah jam," ujarnya.
Selain konektivitas darat, pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang dan sejumlah pelabuhan lain juga menjadi prioritas. Kawasan ekonomi di Kecamatan Gerokgak serta pembangunan tahap kedua Turyapada Tower disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat denyut ekonomi Buleleng sebelum masa jabatannya berakhir pada 2030.
Koster menegaskan komitmen bersama diperlukan agar seluruh rencana pembangunan dapat rampung tepat waktu. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondusivitas wilayah.
"Kita harus menunjukkan komitmen kita sama-sama untuk memajukan Buleleng. Saya mohon guyub, bersatu menjaga Buleleng dan Bali agar tetap kondusif," tegasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa budaya adalah napas kehidupan masyarakat Bali yang wajib dijaga secara konsisten. Ia mendorong generasi muda untuk terus berkreativitas agar regenerasi seniman berjalan berkelanjutan.
"Budaya tidak akan pernah mati, karena budaya adalah jiwa kehidupan kita, napas masyarakat Bali. Jaga dengan konsisten dan serius sepanjang masa," ujarnya.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menegaskan bahwa Bulfest memiliki makna lebih dalam dari sekadar perhelatan seni tahunan. Festival ini ia sebut sebagai ruang bersama untuk menghidupkan kembali ingatan, identitas, dan rasa memiliki terhadap kebudayaan Buleleng.
Melalui tema "Uriping Rasa", Sutjidra menjelaskan bahwa budaya akan tetap hidup selama rasa di hati masyarakat menyala. Tradisi, menurutnya, tidak harus ditinggalkan ketika zaman berubah, melainkan harus mampu menemukan ruang baru agar tetap relevan bagi generasi masa kini.
"Uriping Rasa mengajak kita menjaga rasa hormat kepada leluhur, cinta pada tanah kelahiran, kebanggaan identitas, kepedulian terhadap lingkungan dan sesama, serta tanggung jawab mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya," jelasnya.
Selama enam hari pelaksanaan, Bulfest 2026 menyuguhkan berbagai kegiatan seni, budaya, ekonomi kreatif, UMKM, kerajinan, kuliner, dan inovasi. Nuansa Singaraja tempo dulu turut dihadirkan untuk memperkuat identitas dan karakter Buleleng.
Harapannya, festival ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang memberikan ruang berkarya bagi seniman, mendorong pertumbuhan UMKM, serta memperkuat citra Buleleng sebagai daerah yang kaya akan seni, budaya, dan sejarah.