Saham DMAS Menguat 8% Usai Laba Melonjak, Data Center Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Puradelta Lestari

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:08:31 WIB
Saham DMAS menguat 8% dalam satu sesi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring melonjaknya laba perseroan.

BALI — Lonjakan harga saham DMAS terjadi di tengah aksi beli investor terhadap saham-saham berbasis aset tanah dan properti industri. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar DMAS ikut terdongkrak menyusul penguatan harga yang terjadi dalam satu sesi perdagangan.

PT Puradelta Lestari Tbk sejatinya bukan pemain baru di kawasan Cikarang. Berdiri sejak 12 November 1993, perseroan merupakan usaha patungan antara Sinar Mas Land melalui PT Sumber Arus Mulia dan konglomerat asal Jepang, Sojitz Corporation. Keduanya menguasai masing-masing 57,28% dan 25% saham, struktur yang relatif stabil sejak IPO pada 29 Mei 2015 silam.

Data Center Menggeser Bisnis Konvensional

Kota Deltamas yang dikelola DMAS membentang di atas lahan 3.200 hektare di Cikarang Pusat, Bekasi. Sekitar 69% area tersebut merupakan kawasan industri bernama Greenland International Industrial Center (GIIC) yang hingga November 2025 telah menampung 135 perusahaan.

Namun yang menarik, pertumbuhan pendapatan perseroan kini tidak lagi bertumpu pada tenant manufaktur otomotif seperti Astra Honda Motor atau Hyundai. Sejak 2022, GIIC ditetapkan sebagai lokasi Pusat Data Nasional (PDN) pertama Indonesia. Hingga 2024, tercatat 14 tenant data center lokal dan internasional telah beroperasi di kawasan ini, dan kontribusinya terhadap pendapatan sektor industri DMAS telah menembus 80% pada awal 2025.

Pemegang Saham dan Kepentingan Institusi Asing

Di luar dua pemegang saham utama, data KSEI per 31 Juli 2026 menunjukkan ada beberapa institusi yang turut menahan saham DMAS dalam portofolio jangka panjangnya. PT Taspen (Persero) tercatat memiliki 1,77% saham, sementara Sparta 24 Ltd., sebuah institusi asal Israel, menggenggam 1,06%.

Kehadiran investor institusi asing dan BUMN dana pensiun ini menandakan DMAS tidak hanya dilihat sebagai emiten properti siklikal, tetapi juga sebagai pemilik aset strategis yang menghasilkan pendapatan berulang (recurring income) dari sewa lahan dan utilitas kawasan.

Anak Usaha dan Lini Bisnis Pendukung

Perseroan juga memiliki anak usaha, PT Pembangunan Deltamas, yang bergabung sejak 2008 dan fokus pada pengembangan perumahan serta hotel. Selain itu, DMAS mengelola layanan penyediaan air bersih, pengolahan air limbah, hingga jasa kebersihan dan keamanan kawasan—sebuah model bisnis yang membuat pendapatan perseroan tidak hanya bergantung pada penjualan lahan.

Dengan harga saham yang kini diperdagangkan di level Rp161, valuasi DMAS masih berada di bawah harga IPO-nya yang mencapai Rp210 per saham pada 2015. Namun, dengan pergeseran bisnis ke sektor data center yang tengah tumbuh pesat di Indonesia, prospek pendapatan jangka panjang perseroan dinilai lebih stabil dibandingkan siklus penjualan properti konvensional.

Investasi mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: seruji.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top